MERBABU-no filter, no compressed

As i’m too lazy to write a blog recently, i would like to post the merbabu’s landscape. I did climbing about 2 months ago and it was the first time. not sure if you guys would like it since we didn’t capture it with highly rated camera. Well, here it is.

DSC07084 DSCN1262 DSC07141 DSC07130 DSC07069 DSCN1266 DSCN1279 DSCN1289 DSCN1263 DSCN1191 DSC07072

Advertisements

BOOK:TITIK NOL by AGUSTINUS WIBOWO

titik-nol

 

Sejak membaca dengan tidak sengaja buku kedua Agustinus, saya menjadi lebih tertarik untuk membaca buku ketiganya ini. Gaya penulisan dan berceritanya memang membuat buku ini lebih dari sekedar buku traveller biasa. Bahkan untuk menghabiskan buku ini saya sengaja menghentikan sebuah bacaan tentang orang introvert di tengah jalan. Pada akhirnya saya tidak menyesal sekali pun karena telah mendahulukan buku ini untuk dibaca.

Masih tentang perjalanan Agustinus di negeri orang. Penulis melanjutkan impiannya untuk bisa sampai ke Afrika Selatan. Dimulai dari Tibet hingga perjalanannya terhenti di Afghanistan. Selama perjalanannya itulah Agustinus seolah-olah menceritakan kegalauan hatinya yang seperti menjadi orang minoritas di negeri sendiri. Siapa dia? Orang cina yang lahir di Indonesia, lalu dia orang Indonesia atau orang Cina? Identitas inilah yang menjadi pertanyaan Agustinus sepanjang perjalanannya disamping pertanyaan-pertanyaannya tentang kemanusiaan, perdamaian semu, budaya, agama, prinsip-prinsip dan cinta. Setiap bab dibuka hampir dengan penyesalan Agustinus dan  diikuti tentang kisah menjelang kematian ibunya, Agustinus seolah-olah membawa kita untuk memikirkan kembali titik nol kita: rumah, ayah,ibu, kakak, adik dll. Apakah perjalanan yang kita tempuh selama ini membuat kita belajar?

Perjalanan Agustinus memang lebih dari sebuah perjalanan. Dan tidak harus menjadi seorang traveller untuk membaca buku ini karena memang buku ini diperuntukan untuk siapa saja tapi tetap saja buku ini seperti mendorong kita unutk jalan-jalan dan meresapi apa yang kita temui di tengah perjalanan.

YOUNG THE GIANT-ISLANDS

Five days
Underwater
Near your island
Off the coast
I know
Five ways
You were my lover
Incantations
Of the tide
In rhyme

Oh, out in the glow I’ll find you waiting
Oh, has it been so long now, I
Oh, I thought you knew that I’d be coming
The way you move, a foreign groove, at night

I could never
I could never hold you

Watch it rise and where you hide your pearls
Feel the tide low where you cast those stones you wear
When no one’s home, do they feel cold on your bones
All the years I’ve missed your warmth,
Have you missed my warmth?
On your island

Saya tidak begitu mengikuti gelagat dunia hiburan Korea sebenarnya. Cuma, sekali-sekali saya nonton film produksi orang Korea sih. Salah satunya flm Introduction of Architecture yang sebanarnya tidak begitu banyak hubungannya dengan arsitek.

Yang menarik dari film ini adalah soundtrack-nya. 90an sekali. Yang saya share diatas adalah lagu closing-nya. Coba dengarkan dan nikmati. Hhe

SOE HOK GIE:PUISI

Saya tidak begitu mengenal sosok Gie. Saya-jujur- tidak begitu suka dengan pemikiran-pemikirannya yang menurut saya agak-agak mengarah ke sekuler. Dan saya juga lupa apakah saya pernah menulis tentangnya sebelumnya. Tapi itu, menurut saya, tidak penting. Saya sangat suka pada puisi-puisi Soe Hok Gie walaupun yang saya tahu cuma 2 buah puisi darinya. Itupun setelah menonton filmnya. Dan puisi yang paling saya suka adalah Romantisme (kalau tidak salah).

Saya tidak mengerti begitu mengerti sastra. Apalagi puisi. Karena Soe Hok Gie hidup sampai tahun 60an jadi saya beranggap tulisan-tulisan gie sangat ‘sastra klasik’. Walaupun saya suka novel-novel klasik bukan berarti saya paham apa itu sastra klasik. cuma pernah dengar ketika diajar Bu Dini, guru Bahasa Indonesia saya dulu dari SMP sampai SMA. Hmmm, puisi ini terdengar pas sekali ketika dibacakan Nicolas Saputra di film Gie.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Wiraza.
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis dilembah mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom didanau
Ada bayi-bayi yang mati lapar dibiavra
Tapi aku ingin mati disisimu manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
Mari sini sayangku kalian yang pernah mesra,
Yang pernah baik dan simpati kepadaku
Tegaklah kelangit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik ialah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ketiada
Berbahagialah dalam ketiadaaanmu

By Soe Hok Gie

TOKYO ZODIAC MURDER

1065087-gf
Tak sengaja ketika lagi berkunjung di kos teman saya meminjam buku ini. Alasannya, buku di kos saya sudah saya baca semua dan saya merasa butuh bacaan baru. Sebenarnya banyak pilihan buku kala itu tapi entah mengapa pilihan jatuh pada buku ini. Karena temanya misteri dan teka-teki mungkin sehingga sensasi yang ditimbulkan seperti membacanya seperti membaca buku Tere Liye Negeri Para Bedebah: penasaran dan tak ingin berhenti.

Tokoh utama pada buku ini ada 2, Kazumi Ishihoka yang sangat terobsesi dengan cerita detektif dan Kiyoshi Mitarai yang seorang peramal sekaligus ahli astrologi. Mereka mendapatkan ‘tantangan’ untuk memecahkan kasus pembunuhan yang belum pernah dipecahkan siapapun selama lebih dari 40 tahun.

Menurut saya kasusnya pun sangat menarik. Seorang seniman yang ingin membunuh ke enam anaknya karena terobsesi dengan astrologi dan ingin menciptakan manusia yang terdiri dari bagian-bagian wanita yang lain. Anehnya, seniman ini mati terlebih dahulu sebelum anak-anaknya mati sencara mengeringan dengan cara dimutilasi. Jadi siapa pembunuh sebenarnya?

Bagian yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana pembunuh membuat semua penyidik berpikir bahwa wanita yang dibunuh berjumlah 6 orang sedangkan ternyata yang bunuh hanya 5 orang. Yang paling menarik lagi, pembunuh merupakan salah satu dari 6 wanita yang dimutilasi tadi. Ini bagian yang paling jenius menurut saya.

Ketika baca ringkasan dari bloger lain banyak yang menyimpulkan bahwa cerita ini sedikit banyak terpengaruh dari buku-buku Sherlock Holmes tapi karena saya tidak pernah baca buku Sherlock Holmes jadi saya no comment lah. Bagi saya membaca buku ini menjadi sesuatu yang baru dan tidak biasa karena memang saya tidak banyak membaca buku-buku bertemakan misteri dan teka-teki. Kira-kira novel ini ada hubungannya dengan tidak dengan film The Zodiac?

Oh iya, ternyata ini merupakan novel lama-saya pecinta novel jadul. Terbit pertama kali di Jepang kirapkira tahun 1981-menurut wikipedia. Bagi saya buku semacam ini seperti buku ‘pelarian’ karena bosan dengan buku-buku satu tema yang menjamur di toko buku. Jadi, kalau memang tertarik, selamat membaca.

 

PELARIAN KE SELO,KAKI GUNUNG MERBABU

Jadi liburan ini saya namakan pelarian di tengah kesibukan skripsi. Karena skripsi saya menggantung dan entah bagaimana sempat membuat saya sakit 3 hari. Sekarang sih sudah dapat judul skripsi lagi dengan disiplin ilmu yang berbeda dan sangat ingin saya hindari sebenarnya, komputasi dan simulasi. Namun pada akhirnya tetap saya ambil juga sekalian coba-coba dan tidak ada salahnya juga.
Nah, dengan latar belakang tadi saya memutuskan untuk ambil pelarian liburan sebentar.

Kebetulan HMJ saya mengadakan acara ke Selo, kaki gunung Merbabu. Sekitar 1,5 jam jika di tempuh dari Solo. Karena saya mantan pengurus dan merasa masih punya tanggungjawab(halah) maka saya memutuskan ikut.

3 hari menghabiskan waktu disana, tanpa laptop dan internet, ternyata menyenangkan juga. Selo ini di apit 2 gunung yang berdekatan , gunung Merapi dan gunung Merbabu. Jadi jangan heran jika disini sangat dingin. Apalagi sekarang musim hujan, kabutnya tebal dan datangnya tiba-tiba sekali. Tapi heran juga karena masih ada yang naik ke Merbabu ke karena cuaca sangat ekstrim sekali akhir-akhir ini.

Kesimpulan dari pelarian ini adalah, saya butuh pelarian lagi. Hha. Semoga rencana di april yang akan datang bisa terlaksana. Amin

NB: ada gunanya juga liburan ke tempat terpencil. Internet nggak ada jadi nggak bisa stalking hal-hal yang tidak penting #eh

IMG_20130301_172819

IMG_20130303_060556

IMG_20130303_060613

IMG_20130303_060637

IMG_20130303_131912

IMG_20130303_131918

UNTITLE #3

Orang yang punya blog ini sangat tidak tahu diri sekali. Entah sudah berapa lama blog ini tidak dijamah oleh si empunya. Dengan alasan yang tidak bermutu seperti skripsi, Kerja Pratek dan sedang tidak bnyak baca buku, ide-ide untuk mengisi blog ini pun tenggelam.
Oke. Saya hanya ingin cerita bagaimana saya ‘nggelandang’ ketika lagi di Bandung kok. Yang cuma 1 malam itu loh karena jadwal kereta ke Solo selanjutnya hanya ada esok pagi dan kebetulan teman-teman saya nggak ada yang menjamu. Hmmm. Oke lah.
Ketika di Saguling, saya sudah buka-buka Google Maps karena saya buta sama sekali dengan Bandung. Dengan modal ‘buta’ tadi, saya beranikan diri ke Bandung. Sampai di terminal yang entah apa namanya, saya langsung ke Stasiun Bandung untuk ngecek tiket. Malang, tiket ludes karena kala itu memang lagi liburan. Saya putuskan untuk menginap di masjid dekat stasiun saja.
Ah, memang ya, kalau lagi tidak tahu mau apa di tempat asing itu tujuan paling utama adalah cari masjid dan cari toko buku. Terima kasih sekali lagi untuk Google Maps karena bantuannya saya bisa menemukan toko buku Times di mall Istana Plaza (kalau nggak salah baca).
Perjuangan ke toko buku ini cukup susah karena harus menerjang hujan (duh, bahasanya). Setelah sampai disana sempat bingung juga toko bukunya dimana karena toko buku Times itu tidak seperti toko buku pada umumnya. Saya memilih untuk membeli buku The Perks of Being a Wallflower. Alasan pertama, saya lihat review di Internet kalau buku ini patut di baca. Kedua, karena ada judul wallflowernya, sepertinya cocok.
IMG_20121117_074052
Tidak pakai jalan-jalan tambahan keliling mall, karena pada dasarnya saya tidak suka mall, saya memutuskan untuk langsung ‘pulang’ ke masjid terus tidur. Beruntung tidak ada yang ngusir, Alhamdulillah.
Besoknya, jadwal kereta jam 8 dan tidak molor. Alhamdulillah lagi. Sekitar jam 4 saya sudah sampai ke Solo. Alhamdulillah lagi dan lagi.

Stasiun Bandung #1

Stasiun Bandung #1


The Morning Train, Stasiun Bandung #2

The Morning Train, Stasiun Bandung #2

A MORNING

THE ROAD

 

THE FARM IN THE MORNING

KEEP MOVING!!!

THE ROAD SIDE

THE FARMER

PTPN

edited by instagram

taken in Saguling, Cimahi, West Java

KERJA PRKATEK

Singkat cerita sekarang saya ada di Rjamandala. Kurang tahu ini kecamatan atau bukan, pokonya disini daerah cimahi pinggiran. Sekitar 1 jam dari Bandung tapi tergantung macet apa tidak sih.

Kenapa saya ada disini?? Hmmm. Sebenarnya ini pertanyaan yang jawabannya akan kompleks. Sebabnya, saya kesini niatnya cuma ingin kerja praktek tapi ada niat terselubung. Entah terlaksana atau tidak niat terselubung tadi, hanya saya, takdir dan Tuhan yang bisa mengatur. Malah jadi ngelantur.

Oke. Saya cuma ingin cerita setelah satu  inggu disini. Secara keseluruhan kerja praktek disini cukup menyenangkan. Alasannya, karena tidak terlalu rame dan orang sunda ternyata baik-baik. Pegawai disini mudah sekali bergaul. Dari jajaran satpam sampai petinggi-petingginya. Saya yang orang asing malah disapa bukannya menyapa. Saya sendiri merasa sudah membuat kemajuan dengan sedikit demi sedikit mengenal para satpam.

Hubungan antara pegawai-bos seperti tidak ada sekat. Aneh sekali tapi saya merasa beruntung sih. Hampir tidak ada gap-gapan antara atasan dan bawahan. Suasana kerja juga santai. Ditambah makan gratis dan lauknya tiap hari enak terus. Tidak jauh-jauh dari ayam, ikan ditambah di kasih buah. Perbaikan gizi maksimal.

Yanga agak miris cuma disini pegawainya kaum adam semua. Sampai-sampai toilet pun hanya ada toilet laki-laki. Maklum kerja lapangan. Urusan mesin-listrik kan jarang ditukangi oleh perempuan.

Suasana lingkungan ‘agak’ mendukung. Kekurangannya karena hp tidak bisa nangkep sinyal 3G atau HSDPA. Cari makan susah cari yang murah. Aneh, disini kenapa bubur ayam bukanya malam. Ketolong sama lokasi Indomaret dan Alfamart yang berdekatan.

Setidaknya, saya merasa sudah ada dibagian lain di Indonesia. Walau tetap di pulau Jawa. Jadi memang ada perbadaan orang sunda dan orang jawa. Bersyukur karena bisa mengenal lingkungan dan suku lain.

 

 

Blog at WordPress.com.