KESAN KESAN MENJADI LIBRARIAN

Pernah kalian berpikir berapa uang yang kita habiskan untuk menyelesaikan pendidikan dibangku kuliah? Kalau cuma untuk membiayai kuliah saja mungkin tidak sampai 10juta tapi biaya-biaya sampingannya itu lebih besar. Lama saya berpikir tentang ini dan hal ini melecut saya untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

Lebih dari 6 bulan sudah saya ‘mengabdikan diri’ di perpustakaan jurusan. Tujuannya ya untuk memenuhi biaya sampingan kuliah tadi. Perpustakaan ini unik karena semua hal dihandle oleh mahasiswa. Kita cuma diberi dana operasional sedangkan sisanya kami yang kerjakan. Tidak asyik? Salah. Asyik sekali malah menurut saya. Namun, disamping dapat pengalaman, hal yang saya suka dari kerjaan ini adalah saya ingin membangun kemampuan bersosialisasi saya. Ada salah seorang teman bilang bahwa kemampuan sosial itu penting dan kebanyakan kemampuan sosial itu dibangun oleh kemampuan berkomunikasi yang baik. Dan saya sadar, komunikasi adalah kelemahan paling akut saya. Beruntung, saya mengenal banyak orang selama 6 bulan lebih ini dan saya mendapatkan banyak hal penting dari berkomunikasi itu yang tentunya banyak sekali membantu proses perkuliahan. Yang paling penting lagi, selama ini saya tidak perlu memfotokopi materi kuliah saya karena materi itu bisa saya dapatkan dengan gratis diperpus. Tidak perlu repot repot cari printer teman atau ngeprint di rental. Disini sudah tersedia lengkap dengan kertasnya. Gratis tapi kadang-kadang saya tak tega dan sering kali pakai kertas sendiri.

Memang sangat sulit memulai karena ini pertama kali nyambi kuliah dengan kerja. Malah IP saya jeblok tapi saya menanggapinya sebagai bagian dari adaptasi. Oia, disini dibayar perbulan. Gajian dibayar layaknya PNS, dberikan di awal bulan dan saya bertugas untuk mengurusi keuangan yang secara tidak langsung bertanggung jawab atas kebelangsungan kehidupan petugas yang lain. Petugas disini ada 4 orang yang kesemuanya adalah mahasiswa. Saya adalah yang termuda.

Bisa saya anggap bahwa perpustakaan ini adalah gudang perilaku. Berdasarkan pengamatan kecil-kecilan saja sii. Ada yang sangat giat meminjam buku. Mereka adalah kelompok orang yang terobsesi akan nilai dan ingin cepat-cepat lulus. Nilai mereka selalu ada di deretan atas. Ada yang giat meminjam buku tapi agak sedikit lesu. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang kebelet lulus karena desakan waktu, dosen atau mungkin ortu. Ada yang keperpus tapi kerjaannya hanya didepan komputer. Merka adalah maniak facebook dan twitter. Ada yang mondar mandir tak jelas. Mereka adalah kelompok orang pemalas yang sedang mencari jawaban tugas.

TANYA JAWAB

Bagaimana keadaanmu sekarang?

Sedikit baik karena laporan lagi numpuk. Sedikit baik karena akhir-akhir ini saya kehilangan waktu untuk baca buku baik buku kuliah ataupun buku bacaan ringan. Sedikit baik karena akhir-akhir ini sering dilema.

Terlebih, seperti biasa, dinamika kampus begitu membosankan semester ini. Tidak banyak hal yang bisa saya share karena kampus begitu monoton. Malah, saking bosannya, setiap hari minggu saya akali dengan membeli koran KOMPAS secara rutin. Biar di otak ini ada warnanya sedikit. Selain karena sedikitnya berita politik dan hukum yang dimuat hari minggu, koran KOMPAS minggu banyak menuliskan hal-hal yang menarik untuk dibaca. Paling tertarik dengan dengan rubrik jalan-jalan yang sering memperlihatkan pelosok tanah air yang tidak pernah terjamah dan cerpen.

Tanggal 27 Desember UAS sudah dimulai, tapi kenapa tampak panik??

Saya hanya merasa banyaknya waktu yang saya gunakan untuk belajar dengan hasil ujian tidak pernah menemukan korelasi matematis. Banyak atau sedikit waktu yang saya gunakan untuk membuka buku, hasilnya sama saja.-___-

Harus ada perubahan keliatannya.

Obsesi terbesar apa sekarang?

Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Biasa, mahasiswa tahun tengah-tengah seperti saya harus mempersiapkan banyak hal ketika sudah menginjak tahun terakhir nanti. Skripsi, seminar proposal, Kerja Praktek, Seminar hasil, Pendadaran. Saya harus mengambil ancang-ancang dari sekarang dan saya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa semua akan terselesaikan jika saya punya banyak uang. 😀

Diantara semua masalah-masalah diatas, kelihatanya masih ada satu hal yang mengganjal…

Ada. Saya tidak bisa pulang ke rumah kedua saya, Semarang. Saya tidak bisa bertemu dengan teman-teman saya sewaktu SMP dan SMA. Saya merindukan saat-saat kami tertawa bersama. Saya merindukan saat-saat ketika kami membicarakan tentang lawan jenis-walaupun secara umur, saya rasa kami sudah kadaluarsa membicarakan urusan ini. Saya merindukan energi-energi positif yang mereka berikan ketika saya begitu pesimis menatap masa depan, sesuatu yang jarang saya temukan ketika kuliah.

*hasil pembicaraan malam suntuk antara saya dan saya. Sambil menunggu Liverpool main melawan Newcastle. Dibelain nunggu, malah kalah.-____-

Blog at WordPress.com.