MEDIA

Kerap kali saya berpikir skeptis tentang media-media kita. Apakah mereka sudah memberikan informasi kepada kita tanpa ada niatan lain. Apakah mereka sudah mengambil peran check and balance layaknya negara demokrasi lain. Semakin saya berpikir, semakin saya ragu.

Saya masih ingat betul ketika Pak Presiden menyampaikan pidato dihandapan para TNI dan polisi yang sampai-sampai menyinggung gaji segala.   Bukannya saya membela Pak Presiden tetapi kok saya merasa media salah tangkap ya. Atau sayanya yang salah tangkap?

Ketika itu beliau menyinggung gaji beliau yang tidak naik-naik selama 7 tahun menjabat. yang saya tidak suka, kenapa pidatonya itu dipotong ditengah jalan. Dipotong ketika pak presiden cuma menyinggung soal gaji saja. Padahal kan pidato Pak Presiden tidak cuma tentang gaji saja. Masih banyak hal yang dia singgung menurut saya. Inilah yang menurut saya media tidak berimbang. Menurut saya, menyimpulkan suatu info atau berita itu layaknya membaca buku. Kalau mau tahu apa yang diceritakan dalam suatu buku ya harus membaca buku itu harus secara menyeluruh, tidak cuma membaca satu paraghrap. Kalu tidak, yang ada nanti ya salah tafsir.

Bukan hanya kali ini saja sii, dari dulu saya sedikit hati-hati dalam menanggapi berita. Sedikit selektif dalam mencari-cari berita. Karena ya aneh saja, berita yang ada isinya cuma kejelekan pemerintah. Saya bingung, apakah media kita ini mencari rating atau memang ingin memberikan berita untuk masyarakat.

Tulisan ini bukan berupa dukungan untuk Pak Presiden(yang ada nanti saya pendukung partai beliau) atau menjatuhkan media(walaupuin ada juga media yang lebay biasanya). Ini hanya buah dari pemikiran lambat saya saja.

 

Advertisements

LEBIH DARI JEDA

Menjabarkan kata ‘jenuh’ ternyata membutuhkan waktu banyak. 1 bulan. Selama itu saya belum bisa menggambarkan bagaimana bosannya saya dengan kehidupan saya dikampus, kos dan lingkungan sekitar saya. Seolah-olah mereka sudah kehilangan warna yang bisa saya nikmati. Apakah ini tanda ketidakcocokan? Apakah ini tanda bahwa saya sudah lelah secar mental dan fisik?

Mungkin iya kalau ada ketidakcocokan tapi itu bukan alasan untuk berhenti. Yang perlu saya lakukan adalah mencocokan diri.

Mungkin iya kalau saya lelah tapi saya harap lelah disini hanya sebuah mindset bodoh. Saya hanya butuh merubah rasa.

Dan, perubahan itu memerlukan lebih dari sebuah jeda

MENULIS:TRAGEDI 9 FEBRUARI

Jika memang manusia meninggalkan zaman pra sejarah ketika mengenal tulisan, boleh jadi zaman pra sejarah saya berakhir seiring dengan hilangnya status saya sebagai siswa SMA. Ya, saya dulu tidak suka menulis. Kegiatan menulis dan membaca adalah kegiatan langka buat saya. Apalagi, walaupun saya orang Indonesia, saya bukanlah pencinta mata pelajaran Bahasa Indonesia. Nilai UN Bahasa Indonesia paling menyedihkan malah. Saya tidak bakat, pikir saya kala itu.

Makin ke sini pemikiran bodoh saya itu berubah total. Saya menemukan bahwa menulis adalah satu kegiatan mengekspresikan diri yang paling murah dan mudah. Menuliskan apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan membuat saya menjadi insan yang lebih peka dan akan meninggalkan kesan tersendiri. Unik dan menarik pokoknya.

Kegiatan ingin menulis ini timbul setelah ketika semester awal kuliah dulu sering menyisihkan duit jajan untuk membeli koran Tempo yang kala itu masih dalam program promosi. Bayangkan, harga pasarannya sekitar  Rp 2.900 tapi harga promosi cuma Rp. 1.ooo. Bagaimana tidak tergiur?? Apalagi rubriknya bagus-bagus. Rubrik terfavorit saya kala itu adalah rubrik opini yang kebanyakan memang mengkritik pemerintah. Bukan. Bukan karena isinya mengkritik makanya saya tertarik. Saya tertarik dengan seringnya rubrik ini manuliskan kosa kata-kosa kata bahasa Indonesia yang asing bagi saya. Birokrasi, Reshuffle, Check and Balance. Kosa kata yang memang saya sering dengar ketika  pelajaran PPKn tapi tidak paham apa artinya. Kosa kata begituan dulunya hanya untuk dihafalkan tanpa pernah ngerti artinya apa.(yang ginian nih yang membuat pendidikan kita nggak maju-maju)

Dari situ, saya tergerak untuk membeli buku bacaan. Makanya, kalau ada pameran buku atau ada yang jalan-jalan ke toko buku saya sering ikut. Walaupun, saya sering kekurangan uang jajan karena sering saya sisihkan sedikit untuk beli buku tertentu tapi tak apalah. Selalu ada yang harus dikorbankan untuk sesuatu yang lebih baik.

Buku bacaan pertama yang saya beli dulu adalah buku berjudul Harus Bisa yang bercerita tentang seni kepemimpinan ala bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang ditulis oleh salah seorang ajudannya, Dino Patti Djalal. Sedikit menarik menurut saya. Dari situ saya tergerak untuk membeli buku lain walaupun koleksinya sekarang belum banyak.

Saya mulai berpikir, kenapa saya tidak menulis sekalian saja. 9 Februari 2010 saya putuskan untuk membuat blog sebagai media menulis saya. Dengan berbekal tutorial gratis di salah satu fakultas di kampus saya, terbentuklah blog ini. Kesan pertama: susah berat. Harus dimulai dari mana. Harus bercerita tentang apa. Tidak ada gambaran tapi lama kelamaan dengan semangat ingin terus mencoba, ya jadi mudah. Semua sudah tersetting dikepala. Tinggal dikembangkan dalam bentuk tulisan. Ini yang saya suka dari menulis, filosofinya. Menulis itu bukan bakat tetapi sesuatu yang kita dapat dari usaha terus mencoba. Benar-banar melunturkan perspektif saya tentang kegagalan yang tertanam dikepala saya selama ini. Gagal hanya menghampiri orang yang takut mencoba.

 

 

BERSYUKUR DENGAN BERKACA

Wah, ternyata blog ini sudah jarang dikunjungi bahkan oleh pemiliknya sekalipun. Parah. Soalnya kampus lagi sibuk-sibuknya dan membuat jadwal agar semua kegiatan mendapat porsi waktu yang tepat ternyata tidak mudah. Apalagi, sebentar lagi praktikum sudah mau mulai ditambah mading yang belum keisi padahal udah lewat waktu deadlinenya. Jadilah blog ini sebagai korbannya, termasuk juga saya yang sempat tepar selama 3 hari.

Ok. Salah satu kegiatan yang saya maksudkan diatas adalah menyelesaiakan salah satu tugas dosen yang lagi menyelesaiakan S3 di UGM tapi saya tidak akan menceritakan tugas apa itu melainkan sebuah hal menarik ketika saya melakukan perjalanan ke rumah beliau.

Kala itu sore, senin sore. Kami yang beranggotakan 4 mahasiswa mendapat pesan singkat untuk ke rumah salah seorang dosen di jurusan saya. Kami berangkat setelah hujan reda. Eh, tentang hujan, keliatannya akhir-akhir begitu gampang ditebak kapan hujan akan turun dan sore menjelang jam 4 adalah waktu terfavorit hujan untuk menangisi keadaan bumi. Dan hujan juga merupakan salah satu alasan kenapa kegiatan begitu penuh bulan ini.

Ok. Kembali ke tugas tadi. Di perjalanan. Eh, tepatnya disebuah perempatan,  saya sedang melihat seorang bapak. Terlihat dari uban yang lebat dan keriput, beliau sudah berumur 50 tahunan kira-kira. Beliau sedang berusaha menyeberang jalan sambil membawa barang dagangannya.

Bapak tadi menjadi kaca bagi saya kala itu. Saya sering mengeluh dan jarang mensyukuri akan apa yang saya dapat selama ini. Entah berapa banyak hal yang saya dapati tetapi diri ini selalu mencari sesuatu yang belum dipunyai. Entah berapa banyak hal yang saya miliki tetapi diri ini menganggap hal tersebut merupakan sesuatu yang sering didapat orang pada umunya. Jadi malu sendiri pada bapak tadi. Jadi ingat kata-kata bijak “be thankful about what you have. You’ll end up having more…if you concentrate on what you don’t have, you will never ever have enough”. Pembelajarannya, berkaca dengan orang lain merupakan salah satu cara terbaik untuk berbenah diri dan bersyukur.:D

TENTANG KULIAH:PERSPEKTIVE SAYA VS IBU

Bisa jadi ini adalah ‘oleh-oleh’ saya setelah liburan di rumah. Walau sebenarnya liburan saya tidak menarik, ada obrolan singkat saya dengan ibu yang ingin saya tuliskan ke blog ini. Sampai-sampai saya sering kena insomnia karena memikirkan ini. Dan bisa jadi sebagai postingan terakhir bulan ini sekaligus Kali ini masalah sederhana. Tentang kuliah.

Waktu itu saya menerima hasil ujain akhir kuliah semester 4 dari seorang teman di Solo. Asal tahu saja, saya tidak pernah terlalu terbuka kalau masalah nilai-nilai kuliah. Bukan kenapa-kenapa, saya hanya merasa nilai kuliah tidak punya manfaat banyak. Maksudnya, pas kita kerja, apa kita akan ditanyai bagaimana ngitung suhu suatu tank jika dikasih tahu tekanannya atau bagaimana ngitung tegangan bending suatu material jika diketahu panjang dan jenis material. Sejujurnya, saya tidak yakin yang begitu-begituan akan ditanya ketika kita kerja.

Tapi, alasan yang paling kuat adalah saya bukan master dalam hal akademik kampus. Walaupun, seringkali, nilai akademik saya melampaui standard tapi sekali lagi, saya buka ahli akademik. Titik.

Tapi, waktu saya menerima hasil kuliah saya, ibu saya tiba-tiba bertanya tentang nilai ap yang saya dapat. Mudahnya, dia tanya Ip berapa yang saya dapat. ketika mengetahui IP saya melebihi standard, dia langsung celoteh untuk cepat-cepat lulus sekaligus ngambil SKS yang banyak.

Lulus cepat atau lulus tepat??
Mungkin Ibu saya berkata begitu karena dia tidak begitu mengerti kehidupan kampus sekarang yang tidak hanya menuntut kita untuk mahir dalam hal akademik tetapi lebih dari itu. Mungkin kita sering menyebut ‘keahlian’ baru ini sebagi soft skill dan banyak anggapan bahwa ‘jurus’ baru ini akan banyak kita dapatkan jika berkecimpung dalam suatu organisasi.
Tapi, aktif di organisasi bukan tanpa ancaman. banyak dari merkea ,yang sering kita sebut aktivis, lulus lebihlama dibanding mahasiswa pada umumnya. Entah apa alasannya saya juga tak begitu mengerti.
Kalau boleh jujur, berkecimpung dalam suatu organisasi memang menyenangkan. Seperti merasakan euforia kemanangan kalau kita sukses ngadain suatu acara.
Sayang seribu sayang memang, saya tidak begitu cocok dengan atmosfir keorganisasian dikampus saya. Apalagi kalau sudah masuk keranah politik. Otak bodoh saya ini tidak akan sampai.

Jadi, harus bagaimana??harus lulus cepat dengan konsen ke konsep akademik atau sibukin diri di ormawa?? Jawaban yang tidak pernah saya temukan dalam 2 tahun terakhir. Selalu ambigu. Terlalu kabur.
dan, saya yakin sudut pandang saya dengan ibu masih bertentangan

CATATAN INI,CATATAN ITU

Kembali menjamah blog yang sudah lama menjamur. Postingan pertama bulan ini, postingan pertama diawal semester 5, dan postingan pertama setelah pulang dari rumah.
Hanya ingin membuat catatan-catatan kecil tentang apa yang terjadi di semester ini. Walaupun tidak banyak hal menarik yang terjadi selama kurang lebih 5 bulan ini tetapi menurut saya tidak apa-apa untuk dijadikan postingan awal semester baru.

1. Meraka selalu bertanya tentang IP, IP dan IP
Sebenarnya saya tidak datang ketika acara yudisium tanggal 5 tetapi nilai bisa dilihat melalui online. Jadi, saya minta tolong kepada seorang teman untuk ngeliatin nila-nilai saya karena,maaf saja, ditempat saya nyari internet susah minta ampun. Ada memang tetapi tidak 24 jam buka. Koneksinya pun sangat menyeramkan.
Beruntungnya, teman saya langsung cepat tanggap. Nilai-nilai beserta IPnya langsung dismsin.
Tidak begitu bagus memang mengenai IP yang saya peroleh(cuma 3 lebih sedikit) tetapi apapun hasilnya, jika melihat catatan-catatan yang akan saya tulis berikutnya, sudah sepantasnya saya meninggalkan senyum dan bersyukur.

2. Periode Maret-April adalah saat-saat tersulit
Inilah sebabnya kenapa saya harus tetap bersyukur. Banyak hal yang menggangu pikiran saya yang terdengar sedikin cemen jika saya tuliskan. Padahal, ketika itu, HMJ saya lagi mengadakan acara tahunan yang besar(maaf kepada mas-mas KMTM karena saya tidak dapat berbuat banyak). Beruntung, saya mempunyai orang-orang terdekat dari 6th Miracles yang dengan senang hati membantu dan menghibur. Selain itu, saya juga sering membuat literatur berbentuk tulisan agar masalah saya cepat selesai karena katanya dengan mengubahnya dalam bentuk literatur, suatu masalah akan terasa ringan untuk dipikul. Mencari kesibukan lain bisa menjadi jurus jitu juga.

3. Diplotkan di tempat yang saya suka dan yang tidak saya suka
Kali ini maslah organisasi. Karena saking susahnya kuliah dijurusan saya(setiap ada wisuda, jurusan saya selalu menjadi jurusan yang paling sedikit meluluskan mahsiswa), saya memutuskan untuk mengikuti hanya 2 organisasi. HMJ(disini dikenal KMTM) dan ormawa tingkat fakultas. Masalah datang ketika saya ditempatkan dibidang yang bukan menjadi kesukaan saya. Otomatis, setiap rapat terasa membosankan dan saya selalu menjadi anggota yang selalu pasif. Selain itu, saya juga tidak begitu suka dengan orang-orang yang berkecimpung disatu ormawa dengan saya. Mereka lebih suka menggerakkan mulut daripada menggerakan kaki-kaki dan tangan-tangan mereka.
Berbeda dengan ormawa satunya. Saya ditempatkan dibidang dimana saya belum begitu bisa tetapi saya menyukainya yaitu dibidang tulis menulis dan semacamnya. Semoga dengan begini, bisa menambah minat saya untuk sering membaca dan menulis.

4. Ramadhan yang ke-3, saya tidak lakukan di Semesta
Memang kontras perbedaan ramdahan jika dilakukan di Semesta dan di luar. Di Semesta, apa-apa dilakukan bersama. Mulai sahur sampai buka. Malah, kami sering menjajah rumah temen untuk berbuka yang idenya salau datang dari walikelas(menurut saya usul ini sedikit kejam tapi saya suka). Sekarang, mulai dari sahur sampai buka saya selalu sendiri. Benar-benar saya merindukan Semesta.

5. Menjadi senang untuk bercakap dalam bahasa Inggris
After seeing Hannah Montana the movie(staring by myley cyrus) and Secret Life of Bees(sataring by Dakota Fanning), I like speaking in english but then I realize that my english is getting bad. Keliatannya saya harus nyari buku opportunities dan fotocopyan tugas-tugas yang dikasih pak rifat dulu.

SEPENGGAL OBROLAN: RASA TAKUT, MIMPI DAN MASA DEPAN

Sebenarnya saya bingung mau milih judul yang seperti apa. Masalahnya, saya tidak pernah membuat tulisan yang berisi hal-hal psikis dan motivasi tapi apa salahnya mencoba. Toh, judul diatas sedikit mewakili apa yang ingin saya tulis.
Suatu hari dibulan juli, belum lama sebelum saya menulis blog ini. Saya meakukan kontak dengan seorang teman via YM. Seorang yang menurut saya sangat jenius dan ampuh. Dia sedang menempuh pendidikan strata 1 di sebuah universitas negeri terkemuka di Semarang. Tiba-tiba obrolan tentang masa depan terjadi. Tentang sebuah ekspektasi dan tentunya yang berbau ilmiah. Ini sedikit obrolan kami(tentunya sudah diedit2 dan dipotong2).(S=saya, T=teman)

S:pkmmu lolos ke pimnas kh?
T:nggak yandi, km berangkat?gimana nilainya?
S:nggak. cm sempet dibiayai dikti doank. nilanya belum keluar.keluar secara onlen
T:oh gt. mw ngirim lg mad? ak kok malah jd ga berminat baut nie mad
S:knp el?
T: ga tw ak yan.lg males bgt. khan ak taun ini jd sekdep riset forum studi teknik undip.dan kemarin sempet ngadain platihan pkm 7 minggu.apakah jenuhnya gara2 ikt pltihan itu?ak msh interest buat melakukan penelitian tp ga buat ikut pkm.g tw knp.slh y?

Setelah itu saya crita, knp bikin pkm itu menyenangkan. Saya pun cap cus bla bla bla dengan pede dan panjang lebarnya. Lalu temen saya menjawab gini.

T:tp trkadang ak takut.klo sebnrnya ak g bnr2 minat disini. gmn klo smw ini cm kamuflase dipikiranku sndiri
S:knp bs berpikir itu hanya kamuflase?

Temen saya pun menjelaskan kenapa ada pikiran seperti itu. Dengan panjang lebar dia cap cus jg sampe ada obrolan 3 idiots jg.
Dari obrolan itu, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa teman saya hanya takut akan masa depannya(dimn2 org hbs ntn 3 idiots hrsny termotivasi tp dy mlh takut. tak paham lah).
Mengenai rasa takut, menurut saya itu normal bagi seorang manusia dan itu sangat manusiawi. Dan, setiap manusia punya cara sendiri mengatasinya secara ketakutan mereka jg berbeda-beda.
Tapi, bukannya rasa takut itu hanya bayang-banyang dari pikiran kita yang berlebihan. Pernah baca sebuah buku yang disalah satu paraghrap si penulis menuliskan ‘kita banyak menemukan bahwa kesenangan dan kesulitan hidup lebih banyak dikondisikan oleh pikiran-pikiran kita daripada kenyataan objektif hidup kita. Kadangkala bukan masalah yang membuat kita menjdai berat tetapi sikap kita dalam menghadapi maslah tersebut‘(kurang labih sepeti itu. saya tdk begitu ingat). Jadi ingat blog teman yaitu Meliajani tentang rasa takut. Intinya, rasa takut itu lahir dari pikiran negatif kita. Padahal, sering kali pada kyataannya rasa takut itu tidak menakutkan seperti apa yang kita bayangkan ktika kita sudah berhasil melewatinya. Malah, seringnya tidak terjadi.
Jadi, hadapi rasa takumu kawan. Eliminasi lah pikiran negatifmu. Sayapun masih berusaha.hhe
Setelah itu, kami malah ngobrol ttg mimpi-mimpi masa depan. Tak apalah, buat saya pribadi buat motivasi setelah lelah dengan kesibukan kampus.
NB: buat temen saya yang lagi di tekim undip, keliatnny kamu harus lebih sering nonton 3 idiots. ambil yang bgs2ny.hhe

KMTM DAN PARA ANGSA

Begitu tertarik untuk nulis tentang ini. Berhubuing kemarin kami mahasiswa teknik mesin UNS baru saja mengadakan mubes untuk memilih ktua baru. Dan seperti biasa, mubes kali ini juga diisi saling adu argumen antara para senior dan pengurus angkatan 2006 tapi saya tidak menyorot itu sekarang.
Kalau saya teringat KMTM dan teknik mesin, saya jadi teringat oelh para sekelompok angsa. Hubunganny apa?? oke, gini nih ceritanya.
Anda-anda tahu kenapa para angsa ketika bermigrasi membentuk formasi V? karena terbang dengan formasi ini akan menambah daya terbang mereka. Mereka akan terbang 71% lebih jauh jika dibanding terbang sendiri. Dengan formasi ini juga merka akan menghemat 23% energi.
Jika angsa bagian depan letih, ia akan dipindahkan kebelakang dan digantikan oleh angsa lain. Angsa-angsa juga akan mengeluarkan suara secara serempak ketika terbang. Hal ini untuk memberikan semangat kepada angsa lain dan memotivasi angsa yang sedang memimpin formasi. Dengan cara ini juga, mereka akan mempunyai kepakan sayap yang seirama.
Jika ada angsa yang sakit, dua angsa yang lain akan membatunya turun. Mereka akan membantu dan menunggu sampai angsa tersebut sembuh atau mati. Kemudian mereka akan membentuk formasi baru untuk menyusul angsa terdahulu.
Lalu, hubungannya dengan KMTM??
Kita, sebagai anak mesin, pasti tahu tenang Solidarity M Forever. Sebuah arti dimana anak mesin dimanapun adalah solid dan peduli. Mubes kemarin bukan apa-apa kawan, perjuangan kita masih panjang dan masih banyak yang harus dibenahi dari KMTM kita.
Dan, sudah seharusnya kita meniru kawanan angsa tadi. Sebuah formasi solid dan saling peduli. Saya hanya berharap, kita akan semakin solid dan saling menyemangati seperti para angsa tadi. Dan , saling sejalan dan seirama seperti kepakan sayap angsa tadi. Sekali lagi ingat, kita ini anak mesin yang dikenal solid bung.
Oia, selamat buat mas Cikal atas terpilihnya beliau menjadi ketua KMTM periode 2010-2011. Semoga bisa membawa mesin ke arah yang lebih baik lagi. TEKNIK MESIN, JAYA

DUNIA KECIL

Sebenarnya saya begitu sulit untuk memulai tulisan ini. Yah,karena judulnya saja sudah filasafat banget. Jadi, saya tulis seadanya saja.
Saat itu jam 23.30. Saya dengan kakak tingkat saya berencana cari makan. Dan kami pun memutuskan makan di hek(nasi kucing). Tak disangaka, kakak-kakak tingkat mesin juga makan disitu. Jadi,satu warung diisi sama anak mesin semua. Kakak tingkat sayapun langsung nyeletus ‘dunia ini memang sempit ya’. Sebuah kata-kata yang biasa memang, tapi membuat saya sedikit berpikir jauh.
Ya, dunia ini begitu sempit memang. Kenapa saya bisa sampai dipulau Jawa padahal saya orang kalimantan? Jawabannya ‘dunia ini sempit’. Kenapa saya bisa berteman dari orang-orang dari berbagai penjuru daerah?Jawabanya ‘dunia ini sempit’. Kenapa saya bisa tahu berita dinegara lain padahal saya berdomisili di lain tempat? Jawabanya lagi-lagi ‘dunia ini sempit’.
Jadi, terlalu bodoh bagi kita jika kita masih saja merasa bahwa segala sesuatu didunia ini sulit untuk diketahui dan masih sulit untuk dipelajari. Apalagi sekarang sudah jamannya ‘canggih-canggihan’. Dengan mengoperasikan monitor yang tehubung CPU dan terkoneksi internet kita sudah bisa mengakses apapun. Jadi tidak alasan untuk mengnggap bahwa dunia ini besar.

*tulisan ini hanya untuk memotivasi saya yang lagi futhur karena memang mengalami kejenuhan akhi-akhir ini sehingga sering merasa ‘mati’.sekian*

SEBUAH RENUNGAN

PARAH
Ok. Gini ceritanya. Suatu hari disemester 3. Pihak fakultas mengadakan tes psikotest bagi mahsiswa dan mahasiswi angkatan 2008. Lebih parah, pihak jurusan malah mewajibkan. Nah, hasil psikots tersebut keluar pada hari jum’at kemarin(9/4/2010). Saya yang merasa tidak begitu paham dengan soalnya tidak begitu kaget dengan hasilnya. IQ hanya 108. Jauh dari standar tinggi. Tapi yang membuat saya terkaget adalah kesimpulan yang ditulis dibagian bawah kertas hasil tes tersebut. Begini kesimpulannya

  • kurang minat dengan kerja keras
  • merasa terlalu bangga dengan kerja keras
  • tidak cukup percaya diri sebagai pemimpin
  • tidak memperolah kepuasan batin terhadap kepemimpinannya
  • tidak begitu aktif dalam kelompok. cenderung sebagai reserve
  • kurang peka terhadap kebutuhan kelompok
  • secara emosi cukup peka, dapat menjadi eksekutif efektif
  • mungkin terlalu mengandalkan emosi dan menerima sebagaimana adanya
  • lebih suka lingkungan yang tenang, menghindari konflik daripada menyelesaikannya

WHAT??Kalian lihat, semua yang ditulis pada bagian kesimpulan didominasi oleh hal-hal negatif. Saya hanya menyadari tentang diri saya sendiri pada poin terakhir. Sisanya saya tidak begitu menyadari bahwa saya selemah itu. Hasil ini membuat saya sadar tentang diri saya sebenarnya. Begitu lemah sebagai seorang manusia. saya memang harus banyak belajar terutama tentang diri saya sendiri. Mengenal diri sendiri ternyata susah.

Blog at WordPress.com.