MINGGU YANG MELELAHKAN

Minggu yang melelahkAn. Dari hari jumat sampai minggu saya menghabiskan waktu yang tidak biasa di perpus. Berhubung program studi D3 akan diakreditasi besok seninnya, maka kami diminta untuk menyiapkan perpus sebaik-baiknya karena kelengkapan perpus juga masuk dalam penilaian.

Ternyata imbasnya masih sampai sekarang. Saya masih merasa pusing dan mengantuk walaupun sudah merasa cukup tidur. Parahnya, saya tidak dapat menahan nafsu buat berPES ria dikos teman. Diperparah lagi, ada tugas komputasi perpan yang belum kelar. Parahnya lagii, website untuk HMJ juga belum selesai-selesai. Saya mersa sedikit tertekan.

Imbas yang lain, saya harus merelakan ujian getaran mekanik padahal beberapa hari sebelem ujian saya sudah bertekad untuk menyelesaikan yang belum saya pelajari dari buku Engineering Vibration. Manusia memang hanya bisa berencana. Yang paling parah, saya belum bisa membendung keinginan saya untuk menonton setiap pertandingan Liverpool. Untuk soal yang satu ini, walaupun besok ada ujian 10 matakuliah, saya tetap merelakan untuk nonton Liverpool. Disini, loyalitas dan kebodohan menjadi samar menurut saya. Hampir tidak ada bedanya.

Tetapi, dibalik semua itu, dibalik hal baik atau buruk yang terjadi, saya merasa selalu ada yang disyukuri.

  1. Saya bisa menikmati menu makan yang tidak biasa. Bayangkan, menu saya tiga hari tidak jauh-jauh dari ayam goreng dan masakan padang.
  2. Ternyata, tugas komputasi perpindahan panas diundur selama seminggu karena ada kegiatan akreditasi tadi.
  3. Perpus lebih bersih dan tertata. Sejak lama saya idam-idamkan ternyata harus ada acara akreditasi juga agar semuanya tampak bersih dan wangi.

Hasilnya, saya begitu kewalahan minggu-minggu ini walaupun sudah saya bawa tidur berjam-jam ternyata lelah itu belum hilang-hilang. Dan entah kenapa, saya tiba-tiba rindu akan suasana rumah, nonton bola dirumah, masakan rumah, panas yang tidak biasanya Kalimantan, sulitnya mencari warnet di kampung halaman saya. Saya tidak penah serindu ini dengan rumah. Sekalipun belum pernah. Keliatanaya saya harus benar-benar pulang liburan ini.

Advertisements

SECUIL CERITA DARI JOGJA(BAGIAN 1)

Senin pagi di penghujung bulan September, jam digital di HP tua saya hampir menunjukkan jam 8. Sambil menunggu kuliah, saya dan beberapa orang teman sedang membahas tugas besar mata kuliah metodelogi penelitian dengan asyiknya. Sampai akhirnya, deringan HP tua saya memutuskan pembicaraan kami ditengah-tengah. Ada telepon masuk ternyata, dari nomer tak dikenal pula.

“hallo..” jawab saya
“hallo, ini Yandi kah?” balasnya. Dari suaranya yang berat, sangat terlihat orang ini adalah orang tua dan saya tak asing dengan suara ini. Paman
“enggih, kenapa nggah?(iya, kenapa paman?)” jawabku dengan sopan
“angah di Jogja, bisa kesini kada?aku kada tau wadahkam(paman dijogja, bisa kesini tidak?paman tidak tau tempatmu)”
“Enggih, insya Allah hari sabtu”
“kutunggu”

Pembicaraan berakhir.

2 Oktober 2010

Hati saya senang bukan main. Untuk yang kedua kalinya selama kuliah, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi kota gudeg, Jogja. Termasuk jarang, sangat jarang malah jika melihat fakta bahwa jarak Solo-Jogja dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Alasan yang kuat adalah saya bukan tipe orang yang suka keluar rumah. Jadi, banyak waktu saya habiskan dikampus dan kos. Toh, kunjungan saya kali ini hanya dilatarbelakangi oleh ajakan paman dan ingin sedikt cabut dari kesibukan kampus. Dan, kata-kata”travel often;getting lost will help you find yourself” sangat memotivasi saya kala itu walapupun arti dari kata-kata itu bukan arti travel yang sebenarnya.

Kebetulan(sangat), akhir pekan itu ada teman seangkatan yang berniat pulang ke rumahnya di Jogja jadi kami putuskan untuk berangkat bersama.

Dengan mengeliminasi apa yang terjadi di kereta waktu itu-karena memang tidak ada kejadian menarik-, saya menginjakkan kaki juga distasiun Tugu Malioboro, Jogja dan kami berdua langsung berpisah karena rumah teman saya berada di Sleman sedangkan saya harus ke tempat paman saya menginap di dekat SMP 14. Semenjak itu pula, saya langsung teringat toko buku shopping disebelah Taman Pintar. Dengan membuat kebijakan ekonomi yang sedikit konservatif, saya teguhkan dalam hati bahwa saya tidak akan membeli apa-apa kecuali buku di toko buku tadi. Bukan kenapa-kenapa, saya ingat bahwa saat itu adalah akhir bulan, saat-saat paling ‘mencekik’ bagi anak perantau seperti saya.

……..bersambung di secuil cerita dari jogja(bagian 2)………

UNTITLE…

10 September 2010
Bertepatan dengan hari raya idul fitri, saya yang dikos sendiri memutuskan beres-beres dan bersih-bersih kamar. Daripada tidak ada yang dikerjakan, pikir saya.

Dari atas sampai bawah, lemari, meja, lantai, kasur, bantal, kardus-kardus saya beresakan dan membuang segala sesuatunya yang menurut saya sudah tidak layak pakai seperti kertas-kerats bekas laporan, kardus-kardus kecil dll.

Tapi, saya menemukan tumpukan kertas yang sudah lama tidak saya lihat. Masih rapi. Tidak berkurang satupun, masih tersimpan sangat rapi dan terbungkus sangat baik dengan plastik yang sering saya dapat ketika memotokopi materi kuliah.

to Mad Yandi
From: E**ong
…Mad, nek ketemu moga2 kamu udah beda dari yang sekarang. Udah g cupu ;agi,sekarang sih sudah mending daripada kelas 1 dan 2…tapi kurang berkembang. Komunikasi ma cewek donk mad biar dianggap friendly…friend forever mad

From: E***a Muti’ah
…nggak nyangka liad kamu yang sekarang. Dulu tuch, kamu pendiam bgt, pemalu bgt. Aku suka geli sendiri klo km lagi digodain trus mukamu merah smw.he…tapi lihatlah sekarang…Beda bgt!!!…
…Smoga, selepas SMA ini kamu bs jauh lebih percaya diri!!

From: P**i Eva R
…alhamdulilah udh 6 taun qta disini & 6 taun aq temenan ma u…cuma skrg u udh lumayan banyak berubah…bnr2 jgn lupain qta2…be better everyday yah

From: H*r*a aka April
mad, bener gak sih banyak2 makan semangka bisa bikin tinggi?he…kalo lwat tempat yang rendah jangan lupa ngrunduk ya mad biar gak kebentur.he..pesanq,jgn terlalu dingin ma wanita. gapai masa depanmu…

From: Ar**f Rosianto
dari luar sok2an pendiem tapi klo dah tau dalemnya…pokoknya dalemnya ancur banget deh. muka tak mencerminkan prilaku

Kira-kira begitu isinya. Tidak semua memang saya tuliskan karena kertas ini adalah kesan-kesan kami, anak SMA Semesta angkatan 2008 terhadap teman satu angkatan yang kebetulan berjumlah 75 anak(klo g salah). Itu sudah termasuk siswa dan siswi. Sedikit memang jika dibanding dengan SMA-SMA pada umumnya tapi hal ini pula, yang menurut saya yang mendekatkan kami satu sama lain. Saling peduli dan mengerti bahkan ketika kami sudah duduk dibangku kuliah.

Ingatan saya langsung melayang kekejadian 2 tahun lalu, ketika ada acara ulang tahun sekolah dimana saya memperlaihatkan sesuatu yang ‘bukan saya’. Nyanyi di depan adik-adik kelas dan mungkin mereka mau muntah-muntah ketika saya naik ke panggung. Astagaaaa. Kalau tidak teman baik saya yang maksa, saya tidak akan mau tuh.

Malu bercampur lucu jika ingat hal itu ketika saya sendirian dikos. Tapi tak apalah, paling tidak saya meninggalakan sesuatu di SMA saya walau hal gila sekalipun.

Kepada 6th Miracles, saya mau berterima kasih karena telah menganggap saya teman bahkan sampai sekarang sekaligus ingin minta maaf jika memang sering mengecewakan(mumpung lebaran). Saya yakin suatu saat setiap dari kita akan jadi ‘orang’ seperti orang-orang disekitar kita harapkan. Amien

SETELAH 3 KALI ‘BOLOS’,AKHIRNYA SAYA IKUT

Mulai kembali aktif membuka situs bengawan dan membaca blo para blogger-blogger solo. Mungkin karena sekarang ini bulan Agustus, banyak sekali blog yang membahas tentang 17an. Mulai dari yang meragukan kecintaan bangsa kepada negaranya sampai mengulas kurang tegasnya pemerintah mengenai kasus-kasus yang sering terjadi. Kebanyakan didominasi oleh keluhan-keluhan dan rasa kecewa tapi yang membuat saya salut, setiap paragrap terakhir, si blogger selalu mengaku bahwa mereka masih bangga dengan Indonesia.
17 Agustus pagi hari……..

Saya melakukan kebiasaan yang tak biasa setelah 3 tahun. Upacara 17an.
Saya tidak mengerti kenapa pihak fakultas punya usul seperti ini. Para mahasiswa yang menerima beasiswa wajib mengikuti upacara 17an. Dan, saya adalah salah satunya tetapi tak apalah pikir saya, toh hanya setahun sekali.
Nah, kebetulan pak rektor yang menjadi pimpinan upacara juga menyampaikan hal-hal yang hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh blogger-blogger bangawan. Keluhan. Kali ini tentang terlalu seringnya para pemimpin kita mengumbar janji tanpa ada realisasi. Ironis. Sekaligus menyedihkan. talk less do more lah. Itu inti pembicaraan pak rektor.

Di akhir pembicaraannya, pak rektor minta pamit dan memohon maaf. Kebetulan, periode ini adalah periode terakhir beliau memimpin sebagai rektor.

NB:semoga 17an kali ini menjadi titik balik untuk Indonesia. Apalagi, sekarang bulan ramadhan, bulan dimana Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 1945.

PESONA BORNEO (2)

Lagi-lagi, setelah sibuk nyari di google, akhirnya ketemu juga yang lumayan bagus. Yah, bagus lah untuk menjadi dokumentasi sementara.

Tanjung Penghujan


Tanjung Keluang


Sei Sekonyer

PESONA BORNEO

Judul diatas memang terdengar narsis tapi entah bagaimana lagi untuk menggambarkan kerinduan akan kampung halaman. Kemarin kepikiran untuk mencari sedikit gambar tentang Kumai. Searching di google ternyata ada juga. Walaupun Gambar ini hasil searchingan tapi membuat saya lumayan puas. Sebenarnya ingin punya gambar sendiri sih. Soalnya setelah otak-atik di google belum semua terekspos. Jadi ya seadanya dulu.
Pemandangan dari atas. Memang masih terlihat ketinggalan zaman tapi disinilah saya tinggal.

Pemandangan dari atas dengan sisi yang lain.

Bandar udara iskandar Pangkalan Bun. (Ini diambil tahun berapa ya kira-kira?)

Sungai di tempat saya memang terliahat hitam gini. Ini karena pengaruh tanah gambut yang ada di Kalimantan

Pesona pantai Kubu, Kumai

tanjung Keluang, tempat yang sering dijadikan tempat tamasya bagi penduduk sekitar(saya juga.hhe)

Mungkin postingan kali ini hanya berisi dokumentasi gambar saja, penjelasan tentang budaya dan keadaan masyarakat sekitar akan saya ulas pada paostingan berikutnya. Pastinya setelah saya pulang kampung.hhe

SOLO MENDADAK ADEM

Suatu kejadian yang tidak biasa memang, Solo yang dikenal panas, pagi itu terasa adem. Banyak embun di pagi hari. Saya pun langsung tertarik untuk mendokumentasikannya dalam bentuk foto. Kalau melihat foto ini, saya sungguh sangat ingin ke Bandung, tempat yang ingin saya kunjungi sekali. Sungguh ingin tetapi saya urungkan niat itu.


Semoga saya bisa melihatnya lagi.

Blog at WordPress.com.