BUKU:MEREKA-MEREKA YANG MEMACU

Perkenalan saya dengan dunia perbukuan memang terjadi sangat terlambat. Bacaan saya ketika SMA hanya berkutat pada koran KOMPAS harian yang dibeli secara harian oleh perpustakaan sekolah. Ditambah sekolah saya yang sangat membatasi akses ke dunia luar membuat saya tidak mengenal buku secara mendalam.
Mungkin awal dunia perkuliahan dapat dijadikan titik dimana ketertarikan saya terhadap buku menemui titik temu. Haus informasi, ingin menambah pengetahuan umum dan berbagai macam alasan membuat saya ingin sekali berkenalan dengan buku. Saya masih aktif membeli koran Tempo saat itu karena memang harganya yang terjangkau untuk mahasiswa tetapi keinginan saya untuk membeli buku tentu tetap ada karena pasti informasi yang di sampaikan oleh buku jauh lebih bagus ketimbang koran. Saya ingat buku pertama yang saya beli adalah buku seni Memimpin ala SBY. Tidak terlalu mengesankan karena isinya yang membosankan menurut saya. Hal ini memacu saya untuk lebih jeli membeli buku. Dari sini saya membeli banyak buku yang sudah barang tentu ada yang baik ada juga yang mengecewakan. Saya akan berikan beberapa buku yang menurut saya menarik dan layak memang untuk dibaca. Mereka-mereka itu adalah sebagai berikut
1. Perahu Kertas (Dewi Lestari)
Perahu-Kertas
Tak dapat saya elak bahwa gaya bahasa Dee memang membius saya untuk membaca buku-buku Dee lainnya walaupun yang membuat terkesan sejauh ini hanya Partikel dan Madre. Buku ini walaupun hanya teenlit dan berkisah tentang cerita cinta yang sangat biasa, gaya bahasa Dee pasti membuat betah orang yang membacanya.
2. Cinta Dalam Gelas (Andrea Hirata)
cinta dalam gelas
Saya berani berkata bahwa tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata mengubah arah sastra Indonesia ketika pertama kali terbit. Dulu, buku tak ubahnya film Indonesia jaman sekarang yang bertema seks. Tetralogi Laskar Pelangi mengubah itu yang kemudian membanjiri toko buku dengan buku-buku bertemakan mimpi, cita-cita dan harapan-yang sekarang sangat bosan untuk dilihat. Tentu saja Andrea Hirata tidak dapat disalahkan akan itu. Tetapi yang membuat saya sangat terkesan adalah buku Cinta Dalam Gelas. Tema yang dibawa sangat tidak biasa. Terlebih analogi yang disampaikan yang menyangkutpautkan cara memegang kopi dan rasa kopi terhadap kehidupan orang melayu memang membuat saya terbahak-bahak.
3. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)
bumi-manusia1
Membanjirnya buku-buku motivasi memang membuat buku-buku sastra klasik seperti tenggelam (atau memang dari dulu tenggelam?). Coba bandingkan, orang akan memilih membaca buku kiat-kiat suksesnya Mario Teguh atau membaca buku Bumi Manusia karangannya Pram? hal ini membuat saya berpikir kenapa sekali-sekali membaca buku sastra jaman dulu dan pilihan itu jatuh pada buku ini. Saya pun lupa dapat rekomendasi dari siapa atau hanya random saja kala itu. Tapi itu tidaklah penting karena buku ini memang sangat layak dibaca karena isinya menyangkut tentang jaman kolonial sebelum Indonesia merdeka. Hal-hal yang berbau HAM sepertinya sedang disinggung di buku ini.
4. Garis batas (Agustinus Wibowo)
garis batas
Satu lagi yang membanjiri toko buku adalah buku-buku traveller. Saya memang tidak tertarik dengan buku raveller yang menuruk saya sangat membosankan. Agustinus Wibowo kemudian datang dengan buku traveller yang berbeda. Temanya pasti jalan-jalan tetapi penulis melakukan pendekatan historis yang sangat enak untuk diikuti. Kesimpulan saya untuk buku ini: Cerdas tapi ringan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: