MOVIE: THE MACHINIST

 

Demi tidak mengutuki hari sabtu-minggu secara terus-menerus, saya mencoba mengisinya dengan aktivitas lain: nonton film. Beruntung si modem lagi baik hati yang entah mengapa kecepatan downloadnya sedang mendewa. Saya putuskan untuk mendownload film yang dibintangi christian bale, The Machinist. Ini film lama, keluaran tahun 2004 dan mengambil setting di Spanyol. Jangan harap anda akan melihat Barcelona atau Madrid, karena berbeda dengan film Before Sunset yang mengeksplorasi Paris secara habis-habisan, film ini memang tidak berfokus pada tempat. Mengambil setting di Spanyol menurut saya tidak lebih karena banyak melibatkan sineas-sineas yang berasal dari Spanyol.

Bercerita tentang seorang ahli mekanik mesin pabrik, Trevor Reznik, yang mengalami insomnia selama setahun. Pada awalnya Trevor tidak khawatir karena menurutnya selama ini tidak ada orang mati karena insomnia. Ternyata  anggapan itu salah. Trevor mengalami penurunan fisik dan mental. Tubuhnya jadi sangat kurus. Terlebih mentalnya menjadi sangat bermasalah. Trevor mengalami kejadian-kejadian yang diakhir film sebenarnya tidak ada. Mulai muncul sosok-sosok imajinatif.

Film ini tidak jauh beda menurut saya dengan film American Psyco, Memento dan Fight Club. Dan film-film seperti biasanya sangat khas yaitu penonton dipaksa menyaksikan filmnya sampai selesai karena memang ending cerita akan menjelaskan ketidakjelasan  sepanjang film ini.

Bagi yang suka film-film thriller, menurut saya film ini wajib masuk to-watch list. Dan santai saja, walaupun setting di Spanyol, dialog di film ini tetap menggunakan bahasa inggris. Jadi, selamat menonton. Oiya, nilai imdb: 7.8/10

Advertisements

HUMAN INTERACTION

Saya tulis ini ketika jam hampir menunjukkan jam 11 malam. Saya masih belum tidur. Belum bisa tepatnya. Dan tiba-tiba saja saya ingin menulis.

Satu bulan sudah saya mengasingkan diri di Saguling. Asing betul rasanya. Terlebih-lebih ketika akhir pekan. Bukan karena disini tidak menarik. Disini sangat menarik menurut saya karena bisa melihat hal yang berbeda. Cuma rasanya semua serba melambat di sabtu-minggu. Sepi. Di rumah hampir tidak ada manusia. Saya jadi sadar bahwa saya ini manusia yang paradoks.

Paradoks karena saya selama ini sangat mengagungkan kesepian. Menurut saya menjadi sepi dan tertutup membuat saya lebih mudah bekerja dan berpikir. Itu sebabnya saya tidak bergaul dengan banyak orang. Tidak heran saya bukan sosok populer. Tapi pada saat yang lain saya merindukan sosok manusia.

Ketika saya merindukan sosok manusia, saya akan mulai mengutuki facebook yang alhamdulillah sudah saya tinggalkan. Menghujati twitter habis-habisan. Mengutuki sosok-sosok imajinatif. Kemudian mengutuki diri sendiri.

Kemudian tiba-tiba saya ingin berbicara dengan sosok manusia. Bercerita saja.

Create a free website or blog at WordPress.com.