FILM INDONESIA(2)

Hari minngu, ketika saya lagi tak ennak hati setelah meilihatt  liverpool kalah oleh tottenham. Bahkan sampai sekarang masih kepikiran apakah liverpool bisa lolos ke liga eropa tahun depan.

Beruntung, setelah melihat kekalahan liverpool tadi, perasaan saya berubah senang sedikit karena melihat film Indonesia Minggu pagi di victoria park. Sebenarnya, saya sudah pernah membaca resensinya di blog seseorang tapi karena ini adalah film Indonesia, saya sedikit under estimate. Jadi berlalu begitu saja.

Tapi, setelah kemarin saya menontonnya langsung di RCTI, film ini saya beri skor 8 dari skala 10 karena menyughkan ide cerita yang itdak biasa dan segar. Mengangkat cerita tentang TKI yang banyak kita dengar tapi sangat jarang diangkat menjadi sebuah film.

Bercerita tentang seorang kakak yang mencari keberadaan adiknya di Hong Kong yang lebih dahulu menjadi TKW. Singkat cerita, si adik rela menjadi pekerja apa saja demi membahagiakan orang tuanya di Indonesia. Dari menjadi tukang cuci piring sampai menjadi wanita penghibur. Sambil mencari sang adik, sang kakak bekerja sebagai pembantu dirumah seorang Hong Kong.

Secara garis besar, film ini bercerita tentang realitas kehidupan para tkw di hong kong tapi tidak hanya dari satu orang. Banyak yang menganggap bahwa para tkw mendapatkan bayaran yang tinggi sehingga orang-orang terdekat mereka meminta macam-macam. Ada yang berhutang dengan bunga yang tidak sedikit. Ada yang sampai bunuh diri karena banyaknya hutang yang menumpuk.

Di Indonesian Movie Award kemarin ternyata Titi Sjuman yang berperan menjadi si adik mendapat penghargaan sebagai pemeran wanita terbaik. Saya tambah tidak meragukan kualitas film ini.

Mungkin sudah saatnya film indonesia bengkit kembali karena banyak ide-ide segar yang dapat diangkat agar masyarakat menjadi aware dan peduli. Ide-ide tentang permasalahan pendidikan, sosial, budaya, keagamaan, dan politik pasti akan menjadi santapan yang enak bagi para penikmat film. Contohnya saja film Laskar Pelangi dan Denias  yang mendapat apresiasi dari masyarakat.

Akhir kata, pelajaran dari film ini: jangan remehkan wanita. BANGKIT FILM INDONESIA!.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: