(UNTITLE)

Dari dulu, saya sangat tertarik bagaimana seseorang memutuskan sesuatu. Alasannya, saya merasa saya harus belajar banyak bagaimana mengambil keputusan yang bijak. Sampai sekarang saya belum pernah mengambil keputusan, baik yang penting maupun yang paling tak penting, yang membuat orang-orang yang terlibat di lingkungan saya tersenyum semua. Senang semua. Saya merasa, keputusan yang saya ambil sering mengundang pro kontra tapi itu hanya perasaan saya saja. Saya tidak pernah mananyakan langsung kepada siapapun yang bersangkutan. Ada perasaan tidak enak dan takut. Mungkin karena tidak begitu lihai bersilat lidah.
Nah, karena hal-hal tadi, saya sering ngobrol kepada siapapun yang saya kenal mengenai bagaimana mengambil keputusan penting. Paling sering sih, kenapa dia mau kuliah di jurusan teknik mesin. Jujur saja, teknik mesin bukanlah jurusan favorit ketika saya SMA dulu. Saya buta sekali. Malah saya sempat tidak yakin dengan jurusan ini tapi lama-kelamaan saya jatuh cinta dengan jurusan ini. Maka dari itu, saya sangat tertarik dari setiap jawaban yang ada.
Jawaban yang muncul macam-macam. Saya ambilkan contoh kakak tingkat saya angkatan 2007. Saya sangat kagum dengan ilmu komputernya. Kalau saya punya pertanyaan tentang komputer dan semacamnya, dia adalah orang pertama yang saya tuju. Pernah saya tanyai ketika kami sedang berada dilab kenapa memilih jurusan yang tidak klop dengan minatnya. Jawabannnya simpel, “nggak papa, pingin aja”. Saya bingung, pelajaran apa yang bisa saya ambil dari jawabannya tadi.
Ada lagi. Teman seangkatan saya dari jakarta. Mungkin karena ketika datang disini sama-sama bingung makanya saya agak dekat dengan dia. Pernah saya lontarkan pertanyaan yang sama dengan yang diatas tadi. Jawabannya sedikit berbobot sih. “ kalau mesin enaknya itu langsung aplikasi ke mesin. Langsung bersentuhan dengan mesinnya. Langsung lihat ‘rupa’nya secara langsung. Jadi teori dan aplikasinya bisa terbayang jelas’. Jawaban yang sedikit menghilangkan keraguan saya ketika awal-awal kuliah dulu.
Itulah enaknya ngobrol. Ilmunya banyak salah satunya ya soal keputusan tadi. Tapi, pelajaran yang paling saya senangi adalah sifat antisosial dan tertutup saya perlahan-lahan terkikis.

BUDAK-BUDAK SOCIAL NETWORK

Jadi ingat ketika pertama kali punya facebook. Tiap hari isinya cuma buka situs bikinan Mark Zuckenberg ini. Kalau nggak buka, rasanya saya ketinggalan banyak berita. Faktor utama, saya sulit lepas dari celotehan teman-teman SMA saya dulu. Saling ejek adalah magnet ketika kami saling komen si salah satu status teman atau ketika di tag. Maka, jadilah semester 1-4 tahun jaya-jayanya Facebook bagi saya.

Tapi, selain karena celotah teman-teman tadi, sebenarnya manfaat facebook itu banyak. Yah, kalau disikapi dengan baik, ya baik juga adanya. Sering ditag di seminar-seminar misalkan walaupun saya jarang datang. Minat-minat seminar cuma pas semester-semester awal dulu. Lama kaleamaan jadi bosan. Isinya cuma tempat orang ngomng doang. Belum tentu dapat wangsit. Kalau memang ada apa-apa, mending tanya mbah Google sajalah. Apalagi, akses internet kampus kan gratis walaupun lemotnya minta ampun.

Pernah ada kasus. Dulu Facebook sempat diblokir dikampus saya. Seelah ditelisik, ternyata permasalahannya bermuara pada suatu aktivitas yang sedikit menyimpang menurut saya. Karyawan sering tidak fokus kerja. Saat kerja buka facebook. Mungkin bukan cuma karyawan sini yang kena virus facebook. Jadi saya buat account di Plurk.

Lama-lama main di Plurk bosan juga. Bikin twitter. Tapi saya tidak begitu ngerti dengan mainan yang satu ini. Jadi, Twitter terlantar begitu saja. Hanya facebook yang punya daya tahan paling lama.

Tapi, memasuki semEster ke-5, saya sering nge-deactivin account FB. Alasannya: sering buang waktu. Minggu-minggu ujian, sini malah asyik saling komen. Padahal, saya di tanggungjawabi untuk bikin web HMJ saya. Belum madingnya. Belum acara ketemu alumninya.  Jadi, saya putuskan untuk tidak ngurusi FB lagi. Tapi dulu hanya bersifat sementara. Kalau ngaktivin lagi, tinggal log in biasa. Dipertambangkan lam-lama, saya putuskan deactive secara permanent. Lama-lama saya kehilangan ketertarikan akan facebook. Sudah tidak menemukan manfaatnya lagi. Oia, ada lagi alasannya:saya tidak mau jadi anak lebai yang nulis status sok bijak seperti kebanyakan. Kalau mau dapat petuah, doa banyak-banyak aja dan sering sharing dengan kakak-kakak tingkat.

ULANG TAHUN(UNTUK SAYA DAN BLA BLA BLA)

Jujur, pada hari jadi ke 21 tahun ini, saya sama sekali tidak sadar. Saya sangat konsen pada ujian Teknik Tenaga Listrik saya yang jatuh pada hari jumat juga. Seingat saya, yang saya pikirkan kala itu selain ujian tadi, adalah praktikum Pneumatik untuk hari sabtu dan bagaimana cara agar dapat tiket pembukaan laga LPI di Manahan walaupun pada akhirnya yang kedua ini tidak terpenuhi karena sabtunya hujan deras dan yang menonton sangat membeludak. Anda tahu,tulisan ini saya buat in tidak pada hari saya ulang tahun. Saya menulisnya hari senin. 3 hari setelah tanggal sakral saya.
Mungkin memang pada dasarnya saya yang udik. Sejak kecil saya memang tidak pernah merayakan yang namanya ulang tahun. Tidak ada antusiasme dari ayah dan ibu begitupun saya karena saya tidak menyukai pesta dan keramaian. Dimata kami sekeluarga, ulang tahun memang tidak mempunyai makna apa-apa. Nambah ya nambah aja umurnya. Memang mau diapakan. Tidak ada perayaan. Tidak ada hadiah. Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada acara pura-pura dimusuhi seperti pada umumnya. Jadi, saya memang terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Ulang tahun memang identik dengan rencana perubahan. Yang saya tidak suka kenapa waktu untuk berubah selalu dikotak-kotakan sampai menunggu ulang tahun segala. Seperti, kenapa seseorang ingin mejadi suci lagi harus menunggu lebaran tahun depan. Menjadi umat yang taat bisa dilakukan kapan saja dan itu lebih baik. Kenapa memberi hadiah kepada yang kita sayangi harus menunggu sampai tanggal 14 Februari. Bukannya lebih baik hadiah, mau bentuk yang nyata atau tidak, diberikan setiap saat.
Terlepas saat ini saya ulang tahun, saya tentu punya banyak harapan yang memang saya buat jauh-jauh hari tanpa menunggu tanggal 7 Januari. Pertama, harapan saya pribadi adalah menjadi pribadi sederhana yang luar biasa yang dapat diterima apa adanya oleh siapa saja dan dapat meningkatkan skill menulis saya. Untuk jurusan: TEKNIK MESIN (HARUS SELALU) JAYA. Untuk Indonesia: turukan nurdin, maju sepakbola, kesejahteraan dimana-mana, pemimpin jangan bertengkar anatar sesama hanya karena ada kepentingan golongan semata. Untuk dunia: merdekakan Palestina.

Create a free website or blog at WordPress.com.