INDONESIA: ISTANBUL 2005

Kecewa jika mengingat kembali kekalahan menyakitkan Indonesia dari Malaysia. Saya makin kecewa karena waktu itu saya dan teman-teman seangkatan memutuskan untuk nonton bersama di halaman kantor Solopos. Tapi keputusan kami berakhir buruk karena kami harus rela nonton sambil diguyur hujan. Akibatnya, kami nonton sambil menggigil dan malamnya masuk angin. Tidak cukup sampai situ, seingat saya malamnya ada pertandingan Blackpool vs Liverpool tapi akhirnya ditunda gara-gara badai salju. Benar-benar sial malam itu.-__-

Oke. Kembali ke topik awal tadi. Saya masih ingat betapa euforia dan ekspektasi tinggi di Indonesia ketika saya melihat berita-berita pagi hari yang selama satu minggu selalu membahas Timnas. Yang lebih aneh, kenapa acara gosip bisa-bisanya membahas kesiapan timnas segala. Saya menagkapnya bukan sebagai bentuk dukungan melainkan hanya untuk mencari Rating semata.

Dari berita-berita tadi, saya menangkap bahwa bahwa bangsa ini begitu mengharapkan timnas kita untuk bisa membawa pulang piala AFF karena prestasi intenasional sepakbola kita selama ini begitu suram. Berbanding terbalik jika melihat bahwa sepakbola adalah olah raga terpopuler disini. Yang saya tahu, kompetisi sepakbola kita adalah salah satu yang terbaik di Asia dan jumlah penonton di setiap pertandingan di Indonesia Super League masuk dalam 10 besar Asia. Sebuah Ironi bukan?

Para pengamat bilang kalau Indonesia  bakal bisa meredam Malaysia. Komentar-komentar pedas di dunia maya sudah jauh-jauh hari panas yang dilatar belakangi oleh hubungan diplomatik kedua negara yang selama ini kurang harmonis. Yang saya tidak suka, kenapa sepakbola sampai dibawa-bawa segala dalam hubungan tidak harmonis ini. Saya menganggap bahwa sepakbola adalah bahasa universal dan penyatu bukan pemecah.

Papan skor menunjukkan hasil berbeda dari pengamat dan wartawan sepakbola kita. Dasar komentator. Kita kalah telak. Tiga berbanding kosong. Bukan main dan tanpa ampun.

Tapi,untuk menyemangati, mari kita ingat kejadian 5 tahun lalu. Ketika Liverpool berhasil mengalahkan AC Milan di Final Champion League di Istanbul. Ketinggalan 3-0 di babak pertama, Liverpool bisa membalas semua gol itu hanya dalam waktu 6 menit! Keluar sebagai juara pula. Coba bandingkan dengan kita yang masih mempunyai 90 menit tersisa. Bukan mustahil bukan? Saya tahu bahwa sepakbola tidak pernah punya rumus matematis. Menang 3-0 dibabak pertama bukan artinya bahwa bakal jadi 6-0 dibabak kedua. Tapi itulah yang menjadikan sepakbola menarik dan enak di tonton. Banyak misteri. Kita tak tahu apa yang terjadi didepan. Jadi, semangatlah Garudaku. Menang atau kalah, kalian  sudah membuat bangsa ini bangga ditengah kekeringan prestasi dan kebusukan politik, sosial dan ekonomi bangsa ini.

gambar di ambil disini dan disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: