REKAP 2010:MENULIS SAMPAI SEPAKBOLA

Tidak terasa memang bahwa 2010 sebentar lagi bakal menemui ‘ajal’nya. Baru kemarin keliatannya, dengan syukur yang amat sangat, saya menyadari bahwa saya sudah berumur 20 tahun. Tahu-tahu sebentar lagi bakal menginjak 21 tahun. Apa karena saya banyak buang-buang waktu ya? Mungkin.

2010 tidak pernah menjadi tahun yang mudah untuk saya pribadi. Dari masalah pribadi, sampai-sampai ada teman saya yang bilang bahwa tubuh kurus saya makin kurus dan lebih sering murung dan melamun. Dasar anak muda. Banyak hal yang bisa diceritakan selama mengarungi waktu satu tahun yang menurut saya sangat suntuk dan membosankan ini. Tetapi, sekecil apapun itu, banyak hal-hal yang saya syukuri di tahun 2010 ini.

Satu contoh paling nyata saja. Menulis. Entah kenapa, saya percaya bahwa menulis adalah sesuatu yang membuka mata saya akan banyak hal-hal. Banyak hal-hal yang tak mudah terkatakan dan menulis adalah solusi terbaik. Menulis adalah teman curhat terbaik kedua menurut saya. Terima kasih Tuhan.

Ada lagi, ditahun kedua ini saya banyak dipertemukan oleh orang-orang hebat dan turut mengenalkan saya pada hal-hal baru. Menulis karya ilmiah(walau nggak pernah menang), makin tidak minder, memberikan saya kemudahan dalam kuliah dan masih banyak lagi. Pokoknya, terima kasih teman-teman dan kakak-kakak Keluarga Mahasiswa Teknik Mesin. Oiya, saya malah dipercaya untuk menjadi ketua divisi Media Apresiasi KMTM. Sebuah jabatan yang saya anggap beban awalnya karena pengetahuan saya dibidang tulis-menulis masih minim. Tapi, diberi sebuah jabatan bukankah sebuah penghormatan akan kerja kita selama ini? Jadi saya terima saja.

Tapi, diantara beberapa hal-hal baik tadi, ada hal yang sangat saya sesalkan. Saya melewatkan lebaran tahun ini. Begitu menyesakkan memang tapi kok pas dikos sendirian ketika yang lain pada pulang saya merasa biasa saja ya? Tidak ada tangis atau semacamnya. Aneh ? Saya juga tidak mengerti kenapa. Ternyata, efeknya belakangan. Akhir-akhir ini saya sering ingin pulang walaupun tidak mungkin. Mugkin ini pula yang membuat saya khir-akhir ini sering merasa jenuh dan bosan. Ternyata keluarga alasannya. Ya, keluarga. Mungkin saya harus cepat-cepat kembali ke tempat dimana hidup saya bermulai.

Hal yang disesalkan lainnya adalah hal yang hangat dibicarakan belakangan ini, Timnas sepakbola kita. Mumbu-mumbu politisasi, acara ini itu, ekspos media yang berlebihan(tiap pagi isinya bola mulu. cari rating doang ya mas), euforia seakan-akan kita sudah menangin piala AFF dan dukungan suporter sampai GBK jadi merah adalah hal-hal menarik di piala AFF kali ini. Walaupun pada akhirnya kita pulang tidak membawa apa-apa. Salah satu hal yang saya sesali, kenapa PSSI telah memilih pemimpin yang tidak punya malu seperti nurdin halid padahal prestasi NOL besar. Tapi omonganya besar bener. Seperti apa yang dia lakukan bakal berbuah restasi padahal selama 7 tahun memimpin tidak becus.

Sepertinya orang-orang PSSI itu sepertinya tidak mengerti sepakbola semua. Politikus semua mungkin ya. Mereka lupa, atau mungkin tidak tahu, bahwa menciptakan sepakbola indah harus lah dimulai dari bawah. Pengurus PSSI sepertinya buta akan pembinaan pemain muda. Selalu melakukan hal-hal instan padahal sepakbola bukanlah sesuatu yang instan.  Ada anak kecil setelah lahir langsung bisa jalan? Artinya sepakbola harus dibina dari bibit-bibit muda. Ambil contoh Barcelona dengan la Mesia. Pemain-pemain seperti Xavi dan Messi dididik dengan waktu panjang. Hasilnya, lihat dominasi Barcelona di Spanyol.

Jadi, PSSI, apakah gajimu itu tak cukup buat beli kaca besar-besar buat sekali-sekali ngaca dan berbenah diri??

 

Advertisements

CINTA UNTUK INDONESIA

A: Thank you Mr. Riedl, we still support you …
Warriors handle the hard work during the whole community is very satisfying Garuda Indonesia ….. keep fighting Mr. Alfred Riedl …. go go go

B: Thanks Mr. Alfred, I so proud about your leadership in GARUDA Team…

C: Timnas semoga tetap jaya dan janganlah bersedih,berjuanglah untuk kedepan menjadi yang terbaik Timnas.
Mr.Alfred harus lebih getol melatih timnas
supaya kompak,disiplin,cepat tidak kelihatan loyo untuk Garudaku timnas Indonesia,Selamat berjuang di tahun mendatang…….Selamat tahun baru 2011 semoga sukses selalu.TErima kasih,,,,

D: Thanks Mr. Riedl,u are the best..Terima kasi Laskar GARUDA.Permainan terbaik telah kalian tunjukkan,cuma keberuntungan yg belum berpihak.Ingat Laskar GARUDA kalah menang hal biasa,namun satu yang pasti..200 Juta rakyat Indonesia akan selalu ada di atas KEPAK SAYAP GARUDA….

E: Walaupun gagal bawa pulang piala AFF kami tetap mendukungmu wahai laskar garuda. Kami bangga padamu telah mengharumkan sepakbola di kancah dunia….

LIHAT, BETAPA CINTA KAMI TAK PERNAH LUNTUR SEDIKITPUN. UNTUKMU INDONESIAKU, UNTUKMU GARUDAKU, MAJU TERUS!!!!!!

 

*komen diambil dari situs sepakbola terbesar di indonesia

gambar diambil disini

INDONESIA: ISTANBUL 2005

Kecewa jika mengingat kembali kekalahan menyakitkan Indonesia dari Malaysia. Saya makin kecewa karena waktu itu saya dan teman-teman seangkatan memutuskan untuk nonton bersama di halaman kantor Solopos. Tapi keputusan kami berakhir buruk karena kami harus rela nonton sambil diguyur hujan. Akibatnya, kami nonton sambil menggigil dan malamnya masuk angin. Tidak cukup sampai situ, seingat saya malamnya ada pertandingan Blackpool vs Liverpool tapi akhirnya ditunda gara-gara badai salju. Benar-benar sial malam itu.-__-

Oke. Kembali ke topik awal tadi. Saya masih ingat betapa euforia dan ekspektasi tinggi di Indonesia ketika saya melihat berita-berita pagi hari yang selama satu minggu selalu membahas Timnas. Yang lebih aneh, kenapa acara gosip bisa-bisanya membahas kesiapan timnas segala. Saya menagkapnya bukan sebagai bentuk dukungan melainkan hanya untuk mencari Rating semata.

Dari berita-berita tadi, saya menangkap bahwa bahwa bangsa ini begitu mengharapkan timnas kita untuk bisa membawa pulang piala AFF karena prestasi intenasional sepakbola kita selama ini begitu suram. Berbanding terbalik jika melihat bahwa sepakbola adalah olah raga terpopuler disini. Yang saya tahu, kompetisi sepakbola kita adalah salah satu yang terbaik di Asia dan jumlah penonton di setiap pertandingan di Indonesia Super League masuk dalam 10 besar Asia. Sebuah Ironi bukan?

Para pengamat bilang kalau Indonesia  bakal bisa meredam Malaysia. Komentar-komentar pedas di dunia maya sudah jauh-jauh hari panas yang dilatar belakangi oleh hubungan diplomatik kedua negara yang selama ini kurang harmonis. Yang saya tidak suka, kenapa sepakbola sampai dibawa-bawa segala dalam hubungan tidak harmonis ini. Saya menganggap bahwa sepakbola adalah bahasa universal dan penyatu bukan pemecah.

Papan skor menunjukkan hasil berbeda dari pengamat dan wartawan sepakbola kita. Dasar komentator. Kita kalah telak. Tiga berbanding kosong. Bukan main dan tanpa ampun.

Tapi,untuk menyemangati, mari kita ingat kejadian 5 tahun lalu. Ketika Liverpool berhasil mengalahkan AC Milan di Final Champion League di Istanbul. Ketinggalan 3-0 di babak pertama, Liverpool bisa membalas semua gol itu hanya dalam waktu 6 menit! Keluar sebagai juara pula. Coba bandingkan dengan kita yang masih mempunyai 90 menit tersisa. Bukan mustahil bukan? Saya tahu bahwa sepakbola tidak pernah punya rumus matematis. Menang 3-0 dibabak pertama bukan artinya bahwa bakal jadi 6-0 dibabak kedua. Tapi itulah yang menjadikan sepakbola menarik dan enak di tonton. Banyak misteri. Kita tak tahu apa yang terjadi didepan. Jadi, semangatlah Garudaku. Menang atau kalah, kalian  sudah membuat bangsa ini bangga ditengah kekeringan prestasi dan kebusukan politik, sosial dan ekonomi bangsa ini.

gambar di ambil disini dan disini

PUBLIC ENEMY NUMBER ONE

Gambar diambil disini dan disini

LEBIH DARI JEDA

Menjabarkan kata ‘jenuh’ ternyata membutuhkan waktu banyak. 1 bulan. Selama itu saya belum bisa menggambarkan bagaimana bosannya saya dengan kehidupan saya dikampus, kos dan lingkungan sekitar saya. Seolah-olah mereka sudah kehilangan warna yang bisa saya nikmati. Apakah ini tanda ketidakcocokan? Apakah ini tanda bahwa saya sudah lelah secar mental dan fisik?

Mungkin iya kalau ada ketidakcocokan tapi itu bukan alasan untuk berhenti. Yang perlu saya lakukan adalah mencocokan diri.

Mungkin iya kalau saya lelah tapi saya harap lelah disini hanya sebuah mindset bodoh. Saya hanya butuh merubah rasa.

Dan, perubahan itu memerlukan lebih dari sebuah jeda

TANYA JAWAB

Bagaimana keadaanmu sekarang?

Sedikit baik karena laporan lagi numpuk. Sedikit baik karena akhir-akhir ini saya kehilangan waktu untuk baca buku baik buku kuliah ataupun buku bacaan ringan. Sedikit baik karena akhir-akhir ini sering dilema.

Terlebih, seperti biasa, dinamika kampus begitu membosankan semester ini. Tidak banyak hal yang bisa saya share karena kampus begitu monoton. Malah, saking bosannya, setiap hari minggu saya akali dengan membeli koran KOMPAS secara rutin. Biar di otak ini ada warnanya sedikit. Selain karena sedikitnya berita politik dan hukum yang dimuat hari minggu, koran KOMPAS minggu banyak menuliskan hal-hal yang menarik untuk dibaca. Paling tertarik dengan dengan rubrik jalan-jalan yang sering memperlihatkan pelosok tanah air yang tidak pernah terjamah dan cerpen.

Tanggal 27 Desember UAS sudah dimulai, tapi kenapa tampak panik??

Saya hanya merasa banyaknya waktu yang saya gunakan untuk belajar dengan hasil ujian tidak pernah menemukan korelasi matematis. Banyak atau sedikit waktu yang saya gunakan untuk membuka buku, hasilnya sama saja.-___-

Harus ada perubahan keliatannya.

Obsesi terbesar apa sekarang?

Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Biasa, mahasiswa tahun tengah-tengah seperti saya harus mempersiapkan banyak hal ketika sudah menginjak tahun terakhir nanti. Skripsi, seminar proposal, Kerja Praktek, Seminar hasil, Pendadaran. Saya harus mengambil ancang-ancang dari sekarang dan saya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa semua akan terselesaikan jika saya punya banyak uang. 😀

Diantara semua masalah-masalah diatas, kelihatanya masih ada satu hal yang mengganjal…

Ada. Saya tidak bisa pulang ke rumah kedua saya, Semarang. Saya tidak bisa bertemu dengan teman-teman saya sewaktu SMP dan SMA. Saya merindukan saat-saat kami tertawa bersama. Saya merindukan saat-saat ketika kami membicarakan tentang lawan jenis-walaupun secara umur, saya rasa kami sudah kadaluarsa membicarakan urusan ini. Saya merindukan energi-energi positif yang mereka berikan ketika saya begitu pesimis menatap masa depan, sesuatu yang jarang saya temukan ketika kuliah.

*hasil pembicaraan malam suntuk antara saya dan saya. Sambil menunggu Liverpool main melawan Newcastle. Dibelain nunggu, malah kalah.-____-

Blog at WordPress.com.