MENULIS:TRAGEDI 9 FEBRUARI

Jika memang manusia meninggalkan zaman pra sejarah ketika mengenal tulisan, boleh jadi zaman pra sejarah saya berakhir seiring dengan hilangnya status saya sebagai siswa SMA. Ya, saya dulu tidak suka menulis. Kegiatan menulis dan membaca adalah kegiatan langka buat saya. Apalagi, walaupun saya orang Indonesia, saya bukanlah pencinta mata pelajaran Bahasa Indonesia. Nilai UN Bahasa Indonesia paling menyedihkan malah. Saya tidak bakat, pikir saya kala itu.

Makin ke sini pemikiran bodoh saya itu berubah total. Saya menemukan bahwa menulis adalah satu kegiatan mengekspresikan diri yang paling murah dan mudah. Menuliskan apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan membuat saya menjadi insan yang lebih peka dan akan meninggalkan kesan tersendiri. Unik dan menarik pokoknya.

Kegiatan ingin menulis ini timbul setelah ketika semester awal kuliah dulu sering menyisihkan duit jajan untuk membeli koran Tempo yang kala itu masih dalam program promosi. Bayangkan, harga pasarannya sekitar  Rp 2.900 tapi harga promosi cuma Rp. 1.ooo. Bagaimana tidak tergiur?? Apalagi rubriknya bagus-bagus. Rubrik terfavorit saya kala itu adalah rubrik opini yang kebanyakan memang mengkritik pemerintah. Bukan. Bukan karena isinya mengkritik makanya saya tertarik. Saya tertarik dengan seringnya rubrik ini manuliskan kosa kata-kosa kata bahasa Indonesia yang asing bagi saya. Birokrasi, Reshuffle, Check and Balance. Kosa kata yang memang saya sering dengar ketika  pelajaran PPKn tapi tidak paham apa artinya. Kosa kata begituan dulunya hanya untuk dihafalkan tanpa pernah ngerti artinya apa.(yang ginian nih yang membuat pendidikan kita nggak maju-maju)

Dari situ, saya tergerak untuk membeli buku bacaan. Makanya, kalau ada pameran buku atau ada yang jalan-jalan ke toko buku saya sering ikut. Walaupun, saya sering kekurangan uang jajan karena sering saya sisihkan sedikit untuk beli buku tertentu tapi tak apalah. Selalu ada yang harus dikorbankan untuk sesuatu yang lebih baik.

Buku bacaan pertama yang saya beli dulu adalah buku berjudul Harus Bisa yang bercerita tentang seni kepemimpinan ala bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang ditulis oleh salah seorang ajudannya, Dino Patti Djalal. Sedikit menarik menurut saya. Dari situ saya tergerak untuk membeli buku lain walaupun koleksinya sekarang belum banyak.

Saya mulai berpikir, kenapa saya tidak menulis sekalian saja. 9 Februari 2010 saya putuskan untuk membuat blog sebagai media menulis saya. Dengan berbekal tutorial gratis di salah satu fakultas di kampus saya, terbentuklah blog ini. Kesan pertama: susah berat. Harus dimulai dari mana. Harus bercerita tentang apa. Tidak ada gambaran tapi lama kelamaan dengan semangat ingin terus mencoba, ya jadi mudah. Semua sudah tersetting dikepala. Tinggal dikembangkan dalam bentuk tulisan. Ini yang saya suka dari menulis, filosofinya. Menulis itu bukan bakat tetapi sesuatu yang kita dapat dari usaha terus mencoba. Benar-banar melunturkan perspektif saya tentang kegagalan yang tertanam dikepala saya selama ini. Gagal hanya menghampiri orang yang takut mencoba.

 

 

Advertisements

CATATAN SAYA,MAHASISWA TAHUN KE-3

Tak terasa, seperempat dari tahun ke-3 saya sebagai mahasiswa sudah saya lewati. Sebentar lagi SKS sudah mencukupi untuk Kerja Praktek. Enaknya dimana ya??

Jadi mikir sekaligus membatin, apakah sudah banyak yang saya dapati selama duduk di bangku kuliah? saya jadi ragu untuk jawab ‘iya’. Saya merasa mendapat banyak ilmu dari lingkungan non ilmu kuliah, HMJ. Yup, saya merasa enjoy disini. Ternyata, kalau kita punya banyak orang yang dikenal saat kuliah, kehidupan kuliahpun akan terasa menyenangkan. Mereka memberi warna tersendiri bagi saya. Sedih dan senang terasa hal biasa disini. Mereka seperti pengantin bagi saya. Saya juga menemukan keindahan kebersamaan disini. Ah, cukuplah prolognya.

Dinamika kampus yang selalu berputar memang meninggalkan banyak cerita yang bakal menarik untuk dijadikan obrolan.

1. Dari killer sampai yang (teramat sangat)baik hati(sekali)

Jujur, menurut hemat saya tidak ada dosen yang killer dijurusan saya. Tidak ada yang menakutkan. Maksudnya, selama mengikuti perkuliahan, tidak ada dosen yang membuat saya tertekan dalam kelas(yang menekan saya adalah rasa kantuk yang akut). Tidak ada yang menerapkan aturan ini itu selama perkuliahan. Tapi kalau masalah nilai ujian, ada yang sangat killer. Ambil contoh, Mekanika Fluida 1. Nilai paling tinggi untuk mata kuliah ini adalah C dan beruntungnya saya adalah salah satu mahasiswa yang lulus mata kuliah ini. :D. Tapi, seperti saya bilang diawal, ini merupakan warna(atau mungkin pelangi) bagi saya. Kalau kuliah lancar-lancar saja rasanya juga jenuh. Sedikit ‘ledakan’ itu perlu.

Ada juga mata kuliah dengan nilai yang cenderung gampang untuk mendapat nilai A. Saya ambilkan contoh, Fisika Dasar(1 & 2). Bukan cuma murah nilai, dosen pengampunya juga sering berbagi cerita menarik ketika kuliah(salah satu hal yang menahan kantuk saya). Sangat jelas terlihat, sang dosen suka baca buku. Pengetahuan umumnya jempolan lah menurut saya.

2. Idelais vs Apatis

Suatu fenomena yang sering kita temui memang kalau mengenai masalah apatis dan idealis. Entah sumber dari mana mereka bisa mencap seseorang sebagai kaum apatis atau idealis. Dan sangat sering mereka mengutarakan kelejekan sang lawan, apatis menjelekan idealis dan yang idealis mengatai-ngatai yang apatis. Banyak alasan mereka utarakan dan saya sangat sering jadi ladang curhat.

Saya sering berandai-andai, bagaimana kedua kelompok ini ditemukan dalam suatu forum tersendiri dan kita persilahkan mereka  untuk saling beradu. Tak terbayangkan betapa gemparnya kampus nantinya. Sayangnya, perang dingin mereka ini tidak pernah terpampang secara terbuka. Lebih sering mereka beradu mulut di jejaring sosial semisal FB(entah ada atau tidak di twitter). Tapi, dengan adanya mereka, kampus ini semakin mempunyai warna. Warna yang indah dan menarik.

3. Manajemen Waktu

Entah ada yang salah atau tidak, tapi peng-asrama-an diri saya selama 6 tahun terasa begitu hambar ketika keluar dari lingkungan sekolah. Ya, mengaturan waktu yang rapi sangat sulit diterapkan. Berbeda dengan di asrama dulu dimana semua jadwal sudah terjadwal sedemikian rapi. Dan, perbedaan ini memaksa saya untuk belajar mengatur waktu lebih baik dan bijak. Pelajarannya: memanajeman waktu itu gampang gampang susah.

4. Insomnia

Akibat dari manajemen waktu yang buruk adalah malamnya pasti tidak bisa tidur. Kepikiran ini itu. Macam-macam pokoknya. Tugas kuliah yang tak kunjung kelar(dan sering tidak tertumpuk), kegiatan HMJ yang numpuk adalah dua dari sekian penyebabnya(biasanya). Dipastikan malamnya saya langsung tidak bisa tidur cepat. Tapi bagusnya, dengan ditemani insomnia, muncullah tulisan di blog ini. 😀

BERSYUKUR DENGAN BERKACA

Wah, ternyata blog ini sudah jarang dikunjungi bahkan oleh pemiliknya sekalipun. Parah. Soalnya kampus lagi sibuk-sibuknya dan membuat jadwal agar semua kegiatan mendapat porsi waktu yang tepat ternyata tidak mudah. Apalagi, sebentar lagi praktikum sudah mau mulai ditambah mading yang belum keisi padahal udah lewat waktu deadlinenya. Jadilah blog ini sebagai korbannya, termasuk juga saya yang sempat tepar selama 3 hari.

Ok. Salah satu kegiatan yang saya maksudkan diatas adalah menyelesaiakan salah satu tugas dosen yang lagi menyelesaiakan S3 di UGM tapi saya tidak akan menceritakan tugas apa itu melainkan sebuah hal menarik ketika saya melakukan perjalanan ke rumah beliau.

Kala itu sore, senin sore. Kami yang beranggotakan 4 mahasiswa mendapat pesan singkat untuk ke rumah salah seorang dosen di jurusan saya. Kami berangkat setelah hujan reda. Eh, tentang hujan, keliatannya akhir-akhir begitu gampang ditebak kapan hujan akan turun dan sore menjelang jam 4 adalah waktu terfavorit hujan untuk menangisi keadaan bumi. Dan hujan juga merupakan salah satu alasan kenapa kegiatan begitu penuh bulan ini.

Ok. Kembali ke tugas tadi. Di perjalanan. Eh, tepatnya disebuah perempatan,  saya sedang melihat seorang bapak. Terlihat dari uban yang lebat dan keriput, beliau sudah berumur 50 tahunan kira-kira. Beliau sedang berusaha menyeberang jalan sambil membawa barang dagangannya.

Bapak tadi menjadi kaca bagi saya kala itu. Saya sering mengeluh dan jarang mensyukuri akan apa yang saya dapat selama ini. Entah berapa banyak hal yang saya dapati tetapi diri ini selalu mencari sesuatu yang belum dipunyai. Entah berapa banyak hal yang saya miliki tetapi diri ini menganggap hal tersebut merupakan sesuatu yang sering didapat orang pada umunya. Jadi malu sendiri pada bapak tadi. Jadi ingat kata-kata bijak “be thankful about what you have. You’ll end up having more…if you concentrate on what you don’t have, you will never ever have enough”. Pembelajarannya, berkaca dengan orang lain merupakan salah satu cara terbaik untuk berbenah diri dan bersyukur.:D

Blog at WordPress.com.