MASA KECIL

Akhirnya, setelah sekian lama, blog ini diisi juga oleh tuannya. Yah, bulan-bulan sibuk ‘dihiasi’ sedikit uts ternyata sedikit melelahkan dan menyita banyak waktu tapi that’s ok. Paling tidak saya bisa mengatur waktu saya lebih baik dan bijak.

Kembali ke topik awal. Saya lagi tertarik membicarakan masa-masa kecil saya dan ketika saya ngobrol dengan si Habiba Nabila(tak tulis komplit. nggak pake nama panggilan.hhe) yang lagi studi di lain negara, ternyata sedikit klop dan menarik. Sebenarnya ini obrolan lawas tetapi ternyata masih tersimpan di flash saya.

S : nek kartun pas cilik opo?pokemon?digimon?

T :ninja hatori.digimon paling keren

S :iyo.pertama ak sng pokemon tp suwe2 elek.dadi sng digimon

T :aku r sng pokemon ngket awal.digimon dong.paling apik digimon 1.agumon.hahahahah

S :betul.digimon 2 elek.crita kro tokohe elek.digimon 1 ak jg sng.ak sng agumon jg.hha

T :ho’o.kn ono game digimon barang.PS1

Sebenarnya banyak lagi yang kami bicarakan kala itu. Tentang game terutama PS1 karena pas jaman kami masih PS1 lagi ampuh dan hot-hotnya.hhe

kalau diingat-ingat lagi, masa kecil itu terkadang lucu dan sering membuat kita ketawa sendiri sambil bertanya ‘ kok bisa gitu ya?’. Yah, namanya juga anak kecil.(merasa sudah uzur.hhe)

Yup,cukup sekian dulu keliatannya. Kapan-kapan blog ini saya penyhi tulisan lagi

PS: by the way, saya lagi bingung caranya bikin website.kalau ada yang berkunjung bisa kasih saya link tutorialnya. lagi butuh(bgt)

SECUIL CERITA DARI JOGJA(BAGIAN 2-SELESAI)

Transport yang paling memadai dan sangat mengerti Jogja tentulah Transjoga. Saya putuskan untuk naik alat trnasportasi murah ini untuk sampai ke SMP 14. Namun, saya merasa dibohongi oleh operator yang lagi shift jaga kala itu. Begini. Saya buta akan Jogja dan bertanya pada operator transjogja adalah pilihan terbaik saat itu. Operator menjelaskan dengan sistematis bus mana yang haus saya naiki dan berhenti di halte sebelah mana. Dan, saya ikuti saran dari operator itu dengan baik.

Bus yang saya tunggu datang, saya naik dengan tertib. Saya turun dulu di Ahmad Dahlan dan naik bus lagi. Saya diam sampai akhirnya saya melihat papan penunjuk arah yang sering ada di pinggir jalan. Belok kiri: Malioboro. Si supir pun membanting setir bus ke kiri. Tak lama kemudian saya sampai di SMP 14. Sayapun sampai dirumah. Setelah bertanya, ternyata SMP 14 itu hanya berada di ‘sebelah'(saking dekatnya) Malioboro. Naik becak 10 menit sampailah. Jalan kaki juga bisa sambil olahraga. Kira-kira 20-25 menit. Namun, ambil bagusnya saja. Paling tidak, saya bisa melihat ‘kiri-kanan’-nya Jogja.hhe

Setelah bersalaman dan ngobrol-ngobrol dengan Paman, saya langsung meluncur ke Malioboro. Eh, bukan. Taman Pintar. Persisnya di sebelah Taman Pintar. Yup, toko buku shopping. Pertama saya ragu, apakah ini toko buku yang saya tuju. Alasannya, tidak ada kata ‘shopping’ disitu. Isinya adalah segerombolan toko buku malah dengan nama yang berbeda-beda tentunya. Dibayangan saya, Shopping itu semacam Gramedialah. Setelah saya hubungi seorang teman, ternyata memang benar adanya. Inilah tempat yang saya tuju. Sangat berbeda dari bayangan awal.

Saya langsung sibuk sendiri mencari buku yang ingin saya beli. Karya Salim A. Fillah yang direkomendasikan dari seorang teman. Setelah keliling, akhirnya dapat juga dan tentunya dengan harga yang relatif terjangkau.

Tanpa berlama-lama, saya langsung keluar. Adzan ashar langsung berkumandang. Beruntung, sebelah shopping ada mushola kecil dan terlihat sangat terawat. Terbukti dari kebersihannya yang membuat jamaah lain-termasuk saya-merasa nyaman.

Selesai sholat, saya langsung bergegas pulang tapi karena Paman saya masih keluar jadi saya menunggu di perempatan kantor pos sampai jam 5 sore. Cukup lama memang tapi terasa sebentar. Ternyata diperempatan ini sangat enak buat menyendiri walaupun rame.hhe

Saya tengadahkan kepala keatas. Awan semakin pekat diikuti gerakan awan hitam yang abnormal. Saya berhasil membaca pertanda dari langit. Saya berdiri dan bergegas pulang. Tak lama kemudian, hujan turun.

 

….SELESAI….

 

 

SECUIL CERITA DARI JOGJA(BAGIAN 1)

Senin pagi di penghujung bulan September, jam digital di HP tua saya hampir menunjukkan jam 8. Sambil menunggu kuliah, saya dan beberapa orang teman sedang membahas tugas besar mata kuliah metodelogi penelitian dengan asyiknya. Sampai akhirnya, deringan HP tua saya memutuskan pembicaraan kami ditengah-tengah. Ada telepon masuk ternyata, dari nomer tak dikenal pula.

“hallo..” jawab saya
“hallo, ini Yandi kah?” balasnya. Dari suaranya yang berat, sangat terlihat orang ini adalah orang tua dan saya tak asing dengan suara ini. Paman
“enggih, kenapa nggah?(iya, kenapa paman?)” jawabku dengan sopan
“angah di Jogja, bisa kesini kada?aku kada tau wadahkam(paman dijogja, bisa kesini tidak?paman tidak tau tempatmu)”
“Enggih, insya Allah hari sabtu”
“kutunggu”

Pembicaraan berakhir.

2 Oktober 2010

Hati saya senang bukan main. Untuk yang kedua kalinya selama kuliah, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi kota gudeg, Jogja. Termasuk jarang, sangat jarang malah jika melihat fakta bahwa jarak Solo-Jogja dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Alasan yang kuat adalah saya bukan tipe orang yang suka keluar rumah. Jadi, banyak waktu saya habiskan dikampus dan kos. Toh, kunjungan saya kali ini hanya dilatarbelakangi oleh ajakan paman dan ingin sedikt cabut dari kesibukan kampus. Dan, kata-kata”travel often;getting lost will help you find yourself” sangat memotivasi saya kala itu walapupun arti dari kata-kata itu bukan arti travel yang sebenarnya.

Kebetulan(sangat), akhir pekan itu ada teman seangkatan yang berniat pulang ke rumahnya di Jogja jadi kami putuskan untuk berangkat bersama.

Dengan mengeliminasi apa yang terjadi di kereta waktu itu-karena memang tidak ada kejadian menarik-, saya menginjakkan kaki juga distasiun Tugu Malioboro, Jogja dan kami berdua langsung berpisah karena rumah teman saya berada di Sleman sedangkan saya harus ke tempat paman saya menginap di dekat SMP 14. Semenjak itu pula, saya langsung teringat toko buku shopping disebelah Taman Pintar. Dengan membuat kebijakan ekonomi yang sedikit konservatif, saya teguhkan dalam hati bahwa saya tidak akan membeli apa-apa kecuali buku di toko buku tadi. Bukan kenapa-kenapa, saya ingat bahwa saat itu adalah akhir bulan, saat-saat paling ‘mencekik’ bagi anak perantau seperti saya.

……..bersambung di secuil cerita dari jogja(bagian 2)………

Create a free website or blog at WordPress.com.