TENTANG KULIAH:PERSPEKTIVE SAYA VS IBU

Bisa jadi ini adalah ‘oleh-oleh’ saya setelah liburan di rumah. Walau sebenarnya liburan saya tidak menarik, ada obrolan singkat saya dengan ibu yang ingin saya tuliskan ke blog ini. Sampai-sampai saya sering kena insomnia karena memikirkan ini. Dan bisa jadi sebagai postingan terakhir bulan ini sekaligus Kali ini masalah sederhana. Tentang kuliah.

Waktu itu saya menerima hasil ujain akhir kuliah semester 4 dari seorang teman di Solo. Asal tahu saja, saya tidak pernah terlalu terbuka kalau masalah nilai-nilai kuliah. Bukan kenapa-kenapa, saya hanya merasa nilai kuliah tidak punya manfaat banyak. Maksudnya, pas kita kerja, apa kita akan ditanyai bagaimana ngitung suhu suatu tank jika dikasih tahu tekanannya atau bagaimana ngitung tegangan bending suatu material jika diketahu panjang dan jenis material. Sejujurnya, saya tidak yakin yang begitu-begituan akan ditanya ketika kita kerja.

Tapi, alasan yang paling kuat adalah saya bukan master dalam hal akademik kampus. Walaupun, seringkali, nilai akademik saya melampaui standard tapi sekali lagi, saya buka ahli akademik. Titik.

Tapi, waktu saya menerima hasil kuliah saya, ibu saya tiba-tiba bertanya tentang nilai ap yang saya dapat. Mudahnya, dia tanya Ip berapa yang saya dapat. ketika mengetahui IP saya melebihi standard, dia langsung celoteh untuk cepat-cepat lulus sekaligus ngambil SKS yang banyak.

Lulus cepat atau lulus tepat??
Mungkin Ibu saya berkata begitu karena dia tidak begitu mengerti kehidupan kampus sekarang yang tidak hanya menuntut kita untuk mahir dalam hal akademik tetapi lebih dari itu. Mungkin kita sering menyebut ‘keahlian’ baru ini sebagi soft skill dan banyak anggapan bahwa ‘jurus’ baru ini akan banyak kita dapatkan jika berkecimpung dalam suatu organisasi.
Tapi, aktif di organisasi bukan tanpa ancaman. banyak dari merkea ,yang sering kita sebut aktivis, lulus lebihlama dibanding mahasiswa pada umumnya. Entah apa alasannya saya juga tak begitu mengerti.
Kalau boleh jujur, berkecimpung dalam suatu organisasi memang menyenangkan. Seperti merasakan euforia kemanangan kalau kita sukses ngadain suatu acara.
Sayang seribu sayang memang, saya tidak begitu cocok dengan atmosfir keorganisasian dikampus saya. Apalagi kalau sudah masuk keranah politik. Otak bodoh saya ini tidak akan sampai.

Jadi, harus bagaimana??harus lulus cepat dengan konsen ke konsep akademik atau sibukin diri di ormawa?? Jawaban yang tidak pernah saya temukan dalam 2 tahun terakhir. Selalu ambigu. Terlalu kabur.
dan, saya yakin sudut pandang saya dengan ibu masih bertentangan

SETELAH 3 KALI ‘BOLOS’,AKHIRNYA SAYA IKUT

Mulai kembali aktif membuka situs bengawan dan membaca blo para blogger-blogger solo. Mungkin karena sekarang ini bulan Agustus, banyak sekali blog yang membahas tentang 17an. Mulai dari yang meragukan kecintaan bangsa kepada negaranya sampai mengulas kurang tegasnya pemerintah mengenai kasus-kasus yang sering terjadi. Kebanyakan didominasi oleh keluhan-keluhan dan rasa kecewa tapi yang membuat saya salut, setiap paragrap terakhir, si blogger selalu mengaku bahwa mereka masih bangga dengan Indonesia.
17 Agustus pagi hari……..

Saya melakukan kebiasaan yang tak biasa setelah 3 tahun. Upacara 17an.
Saya tidak mengerti kenapa pihak fakultas punya usul seperti ini. Para mahasiswa yang menerima beasiswa wajib mengikuti upacara 17an. Dan, saya adalah salah satunya tetapi tak apalah pikir saya, toh hanya setahun sekali.
Nah, kebetulan pak rektor yang menjadi pimpinan upacara juga menyampaikan hal-hal yang hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh blogger-blogger bangawan. Keluhan. Kali ini tentang terlalu seringnya para pemimpin kita mengumbar janji tanpa ada realisasi. Ironis. Sekaligus menyedihkan. talk less do more lah. Itu inti pembicaraan pak rektor.

Di akhir pembicaraannya, pak rektor minta pamit dan memohon maaf. Kebetulan, periode ini adalah periode terakhir beliau memimpin sebagai rektor.

NB:semoga 17an kali ini menjadi titik balik untuk Indonesia. Apalagi, sekarang bulan ramadhan, bulan dimana Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 1945.

CATATAN INI,CATATAN ITU

Kembali menjamah blog yang sudah lama menjamur. Postingan pertama bulan ini, postingan pertama diawal semester 5, dan postingan pertama setelah pulang dari rumah.
Hanya ingin membuat catatan-catatan kecil tentang apa yang terjadi di semester ini. Walaupun tidak banyak hal menarik yang terjadi selama kurang lebih 5 bulan ini tetapi menurut saya tidak apa-apa untuk dijadikan postingan awal semester baru.

1. Meraka selalu bertanya tentang IP, IP dan IP
Sebenarnya saya tidak datang ketika acara yudisium tanggal 5 tetapi nilai bisa dilihat melalui online. Jadi, saya minta tolong kepada seorang teman untuk ngeliatin nila-nilai saya karena,maaf saja, ditempat saya nyari internet susah minta ampun. Ada memang tetapi tidak 24 jam buka. Koneksinya pun sangat menyeramkan.
Beruntungnya, teman saya langsung cepat tanggap. Nilai-nilai beserta IPnya langsung dismsin.
Tidak begitu bagus memang mengenai IP yang saya peroleh(cuma 3 lebih sedikit) tetapi apapun hasilnya, jika melihat catatan-catatan yang akan saya tulis berikutnya, sudah sepantasnya saya meninggalkan senyum dan bersyukur.

2. Periode Maret-April adalah saat-saat tersulit
Inilah sebabnya kenapa saya harus tetap bersyukur. Banyak hal yang menggangu pikiran saya yang terdengar sedikin cemen jika saya tuliskan. Padahal, ketika itu, HMJ saya lagi mengadakan acara tahunan yang besar(maaf kepada mas-mas KMTM karena saya tidak dapat berbuat banyak). Beruntung, saya mempunyai orang-orang terdekat dari 6th Miracles yang dengan senang hati membantu dan menghibur. Selain itu, saya juga sering membuat literatur berbentuk tulisan agar masalah saya cepat selesai karena katanya dengan mengubahnya dalam bentuk literatur, suatu masalah akan terasa ringan untuk dipikul. Mencari kesibukan lain bisa menjadi jurus jitu juga.

3. Diplotkan di tempat yang saya suka dan yang tidak saya suka
Kali ini maslah organisasi. Karena saking susahnya kuliah dijurusan saya(setiap ada wisuda, jurusan saya selalu menjadi jurusan yang paling sedikit meluluskan mahsiswa), saya memutuskan untuk mengikuti hanya 2 organisasi. HMJ(disini dikenal KMTM) dan ormawa tingkat fakultas. Masalah datang ketika saya ditempatkan dibidang yang bukan menjadi kesukaan saya. Otomatis, setiap rapat terasa membosankan dan saya selalu menjadi anggota yang selalu pasif. Selain itu, saya juga tidak begitu suka dengan orang-orang yang berkecimpung disatu ormawa dengan saya. Mereka lebih suka menggerakkan mulut daripada menggerakan kaki-kaki dan tangan-tangan mereka.
Berbeda dengan ormawa satunya. Saya ditempatkan dibidang dimana saya belum begitu bisa tetapi saya menyukainya yaitu dibidang tulis menulis dan semacamnya. Semoga dengan begini, bisa menambah minat saya untuk sering membaca dan menulis.

4. Ramadhan yang ke-3, saya tidak lakukan di Semesta
Memang kontras perbedaan ramdahan jika dilakukan di Semesta dan di luar. Di Semesta, apa-apa dilakukan bersama. Mulai sahur sampai buka. Malah, kami sering menjajah rumah temen untuk berbuka yang idenya salau datang dari walikelas(menurut saya usul ini sedikit kejam tapi saya suka). Sekarang, mulai dari sahur sampai buka saya selalu sendiri. Benar-benar saya merindukan Semesta.

5. Menjadi senang untuk bercakap dalam bahasa Inggris
After seeing Hannah Montana the movie(staring by myley cyrus) and Secret Life of Bees(sataring by Dakota Fanning), I like speaking in english but then I realize that my english is getting bad. Keliatannya saya harus nyari buku opportunities dan fotocopyan tugas-tugas yang dikasih pak rifat dulu.

Blog at WordPress.com.