MID OF 2015

Hina sekali rasanya kembali membuka blog ini lagi. Saya pun tak tahu entah kapan terakhir kali posting tulisan di blog ini. Karena banyak sekali alasan untuk tidak bisa membuka blog ini lagi-sebagian besar karena saya buat-buat sendiri. Lagipula banyak hal yang tidak saya bisa ceritakan dengan gamblang di sini. Buka karena tidak mau tapi memang waktu itu belum ada. Baiklah saya akan mulai satu per satu walau tak banyak.

1-Saya akan mulai di mana saya sekarang. Saya bekerja di sebuah perusahaan engineering untuk tambang batu bara, yang sebentar lagi akan beralih fokus ke tambang emas(katanya), yang sebenarnya saya ingin sekali mereka fokus ke oil and gas lagi,  habitat mereka. Alasannya pertama, saya ingin ilmu saya terpakai di sini. Tapi hanya karena semua tidak sesuai harapan, bukan berarti itu jelek-mentor saya di perusahaan bilang ini ke saya and I tottaly agree. Beruntung masih ada yang mau mementor manusia lelet seperti saya. Selama 1 tahun di sini, ternyata saya masih betah saja dan belum ada pikiran untuk pindah. Mungkin karena terlalu nyaman(ini bahaya, kawan!!!!). Seminggu lagi kator saya akan berpindah ke kawasan Bintaro dan akan meninggalkan Kemang yang super lengkap ini. Awalnya saya tidak mau bekerja di Jakarta karena alasan macet dll. Tapi 1 tahun di sini Jakarta tidak sejelek yang saya pikir. Harus pintar-pintar mencari tempat main saja.

2-Selama di Jakarta tidak banyak tempat yang saya datangi. Tapi saya sangat terkesan ketika mengunjungi taman Suropati dan Museum Nasional Indonesia. Kenapa tidak dari dulu saya mengunjungi tempat itu. Saya mengutuki diri dalam-dalam. Sialan.

3-Saya mengambil satu training oil and gas khusus untuk Pipe Stress Analysis karena saya memang minatnya di situ. Training di kawasan Pasar Minggu. Mentornya enak dan mungkin ada berkah apa, selama 2 minggu training tiap akhir pekan saya makin semangat saja. Trainingnya nguras duit banyak tapi worth it.

4-Saya akan memasukan buku yang saya baca akhir-akhir ini. Pertama Gone Girl. Buku membosankan. Cenderung datar (apa karena Bahasa Inggris saya yang masih jelek jadi tidak paham ceritanya). Saya rekomendasikan nonton filmnya saya. Twistnya lebih terasa. Kedua Book That Changed the World karya Andrew Taylor. Sama membosankannya. Kemudian buku Madilog karya Tan Malaka. Saya baca pelan-pelan agar tidak terbawa arus di dalamnya. Sedikit berbahaya menurut saya. Kemudian, buku baru Andrea Hirata, Ayah. Bagi penggemar buku-buku Andrea Hirata saya rekomendasika untuk baca ini walaupun carita tidak begitu menyingung judul. Tak perlu saya banyak cerita disini nanti dikira spoiler.  Kemudian buku Silkworm, lagi saya baca sekarang.

 

Okelah, mungkin tidak banyak yang saya ceritakan karena ada cerita-cerita bahaya juga. Saya berjanji akan lebih perhatian dengan blog ini.

MERBABU-no filter, no compressed

As i’m too lazy to write a blog recently, i would like to post the merbabu’s landscape. I did climbing about 2 months ago and it was the first time. not sure if you guys would like it since we didn’t capture it with highly rated camera. Well, here it is.

DSC07084 DSCN1262 DSC07141 DSC07130 DSC07069 DSCN1266 DSCN1279 DSCN1289 DSCN1263 DSCN1191 DSC07072

BOOK:TITIK NOL by AGUSTINUS WIBOWO

titik-nol

 

Sejak membaca dengan tidak sengaja buku kedua Agustinus, saya menjadi lebih tertarik untuk membaca buku ketiganya ini. Gaya penulisan dan berceritanya memang membuat buku ini lebih dari sekedar buku traveller biasa. Bahkan untuk menghabiskan buku ini saya sengaja menghentikan sebuah bacaan tentang orang introvert di tengah jalan. Pada akhirnya saya tidak menyesal sekali pun karena telah mendahulukan buku ini untuk dibaca.

Masih tentang perjalanan Agustinus di negeri orang. Penulis melanjutkan impiannya untuk bisa sampai ke Afrika Selatan. Dimulai dari Tibet hingga perjalanannya terhenti di Afghanistan. Selama perjalanannya itulah Agustinus seolah-olah menceritakan kegalauan hatinya yang seperti menjadi orang minoritas di negeri sendiri. Siapa dia? Orang cina yang lahir di Indonesia, lalu dia orang Indonesia atau orang Cina? Identitas inilah yang menjadi pertanyaan Agustinus sepanjang perjalanannya disamping pertanyaan-pertanyaannya tentang kemanusiaan, perdamaian semu, budaya, agama, prinsip-prinsip dan cinta. Setiap bab dibuka hampir dengan penyesalan Agustinus dan  diikuti tentang kisah menjelang kematian ibunya, Agustinus seolah-olah membawa kita untuk memikirkan kembali titik nol kita: rumah, ayah,ibu, kakak, adik dll. Apakah perjalanan yang kita tempuh selama ini membuat kita belajar?

Perjalanan Agustinus memang lebih dari sebuah perjalanan. Dan tidak harus menjadi seorang traveller untuk membaca buku ini karena memang buku ini diperuntukan untuk siapa saja tapi tetap saja buku ini seperti mendorong kita unutk jalan-jalan dan meresapi apa yang kita temui di tengah perjalanan.

BUKU:MEREKA-MEREKA YANG MEMACU

Perkenalan saya dengan dunia perbukuan memang terjadi sangat terlambat. Bacaan saya ketika SMA hanya berkutat pada koran KOMPAS harian yang dibeli secara harian oleh perpustakaan sekolah. Ditambah sekolah saya yang sangat membatasi akses ke dunia luar membuat saya tidak mengenal buku secara mendalam.
Mungkin awal dunia perkuliahan dapat dijadikan titik dimana ketertarikan saya terhadap buku menemui titik temu. Haus informasi, ingin menambah pengetahuan umum dan berbagai macam alasan membuat saya ingin sekali berkenalan dengan buku. Saya masih aktif membeli koran Tempo saat itu karena memang harganya yang terjangkau untuk mahasiswa tetapi keinginan saya untuk membeli buku tentu tetap ada karena pasti informasi yang di sampaikan oleh buku jauh lebih bagus ketimbang koran. Saya ingat buku pertama yang saya beli adalah buku seni Memimpin ala SBY. Tidak terlalu mengesankan karena isinya yang membosankan menurut saya. Hal ini memacu saya untuk lebih jeli membeli buku. Dari sini saya membeli banyak buku yang sudah barang tentu ada yang baik ada juga yang mengecewakan. Saya akan berikan beberapa buku yang menurut saya menarik dan layak memang untuk dibaca. Mereka-mereka itu adalah sebagai berikut
1. Perahu Kertas (Dewi Lestari)
Perahu-Kertas
Tak dapat saya elak bahwa gaya bahasa Dee memang membius saya untuk membaca buku-buku Dee lainnya walaupun yang membuat terkesan sejauh ini hanya Partikel dan Madre. Buku ini walaupun hanya teenlit dan berkisah tentang cerita cinta yang sangat biasa, gaya bahasa Dee pasti membuat betah orang yang membacanya.
2. Cinta Dalam Gelas (Andrea Hirata)
cinta dalam gelas
Saya berani berkata bahwa tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata mengubah arah sastra Indonesia ketika pertama kali terbit. Dulu, buku tak ubahnya film Indonesia jaman sekarang yang bertema seks. Tetralogi Laskar Pelangi mengubah itu yang kemudian membanjiri toko buku dengan buku-buku bertemakan mimpi, cita-cita dan harapan-yang sekarang sangat bosan untuk dilihat. Tentu saja Andrea Hirata tidak dapat disalahkan akan itu. Tetapi yang membuat saya sangat terkesan adalah buku Cinta Dalam Gelas. Tema yang dibawa sangat tidak biasa. Terlebih analogi yang disampaikan yang menyangkutpautkan cara memegang kopi dan rasa kopi terhadap kehidupan orang melayu memang membuat saya terbahak-bahak.
3. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)
bumi-manusia1
Membanjirnya buku-buku motivasi memang membuat buku-buku sastra klasik seperti tenggelam (atau memang dari dulu tenggelam?). Coba bandingkan, orang akan memilih membaca buku kiat-kiat suksesnya Mario Teguh atau membaca buku Bumi Manusia karangannya Pram? hal ini membuat saya berpikir kenapa sekali-sekali membaca buku sastra jaman dulu dan pilihan itu jatuh pada buku ini. Saya pun lupa dapat rekomendasi dari siapa atau hanya random saja kala itu. Tapi itu tidaklah penting karena buku ini memang sangat layak dibaca karena isinya menyangkut tentang jaman kolonial sebelum Indonesia merdeka. Hal-hal yang berbau HAM sepertinya sedang disinggung di buku ini.
4. Garis batas (Agustinus Wibowo)
garis batas
Satu lagi yang membanjiri toko buku adalah buku-buku traveller. Saya memang tidak tertarik dengan buku raveller yang menuruk saya sangat membosankan. Agustinus Wibowo kemudian datang dengan buku traveller yang berbeda. Temanya pasti jalan-jalan tetapi penulis melakukan pendekatan historis yang sangat enak untuk diikuti. Kesimpulan saya untuk buku ini: Cerdas tapi ringan.

BOOK:GARIS BATAS

tumblr_lynokrmNSs1qb7t48
Mungkin membaca buku traveller ke eropa bisa jadi sangat biasa-atau mungkin membosankan,saya malah tidak suka. Tapi bagaimana jika buku traveller yang anda baca bercerita tentang asia tengah, negeri-negeri dengan akhiran stan stan yang jarang dibahas di dunia itu. Akan berbeda tetapi sang penulis agustinus wibowo menggiring kita lebih dari sekedar berkelana.
Agustinus wibowo yang merupakan seorang reporter (nampaknya) dalam buku garis batas membawa kita mengarungi negara-negara asia tengah yang sangat jarang dijadikan destinasi berlibur orang awam. Mungkin orang yang agak sinting yang mau berlibur ke asia tengah. Bayangkan, negeri negeri bekas jajahan komunis uni soviet itu hanya penuh gunung, salju, orang tak berpendidikan, tingkat konsumsi vodka yang sudah seperti menghirup udara saja padahal kebanyakan dari mereka mengaku muslim walau tak bisa baca tulis arab. Vodka sudah menjadi budaya di asaia tengah.
Saling aku mengaku pahlawan nasional padahal yang sok-sokan diakui bukan merupakan asli orang asia tengah. Kecenderungan bangsa asia tengah yang sangat suka sekali mengenang masa lalu ketika masa sekarang yang suram dan masa depan yang tak pasti. Ah, begitu indahnya memuja masa lalu terlebih ketika masa sekarang begitu tak pasti, kata agustinus. Ditambah oknum-oknum korup dan birokrasi super ribet ala asia tengah. Semua lancar dengan uang.
Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana agustinus berhasil memfilosofikan setiap erjalanan yang dia lalui kemudian menyangkutpautkan dengan keadaan Indonesia sendiri. Pengucilan para etnis, konflik RI-Malaysia, konflik suku-suku dll. Buku ini sepertinya bukan cuma diperuntukan untuk para traveller namun memang diperuntukan ke semua orang. Bagi saya buku ini sangat layak sekali dibaca terlebih buku-buku di toko buku sekarang sudah sangat membosankan karena kebanyakan bercerita tentang atu tema.

MOVIE:THE LIVES OF OTHERS

t-l-o-o
Karena berembel-embel Jerman dan eropa, film ini adalah film yang saya ingin tonton ketika saya semester awal dulu. Tapi saya cukup tau diri kalau memang ingin menonton film seperti ini dulu. Jaringan internet tidak ‘gratis’ seperti sekarang. Lagipula, jarang ada orang yang punya film dengan tema-tema semacam ini. Mencarinya di toko penyewaan film pun rasanya saya tidak yakin bisa menemukannya.
Kemarin saya tidak sengaja buka situs IMDB. Saya jadi teringat film ini kemudian saya coba download dan langsung saya tonton di kampus pula (sebagian lanjut di kos). Tema spionase memang bisa jadi menjadikan film ini terlihat biasa. Namun coba tengok sebentar tentang sejarah tentang runtuhnya tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur dulu. Bagi orang yang menyukai sejarah, apalagi Jerman, film ini layaknya madu:manis. Agak lebay memang tapi melihat berapa penghargaan yang didapat film ini, analogi lebay tadi sepertinya wajar.
Bercerita tentang dua tokoh sentral, ahli sadap menyadap Stasi, polisi rahasia Republik Demokratis Jerman (GDR) bernama Gerd Wiesler dan penulis skenario drama teater Georg Dreyman. Dreyman dicurigai sebagai orang pro Jerman barat walaupun sebenarnya dia seorang komunis sejati. Intrik demi intrik digunakan diikuti terbukanya banyak fakta yang awalnya permasalahan hanya tentang rebutan perempuan menjadi perlawanan karena merasa adanya ketidak adilan. Teman Dreyman, yang seorang sutradara teater memutuskan gantung diri karena masuk dalam blacklist yang entah sebabnya apa. Hal ini memicu Dreyman untuk membuat sebuah tulisan tentang banyaknya bunuh diri yang terjadi di Jerman Timur yang tentu saja membuat pemerintah naik pitam.
Wiesler yang awalnya berniat memata-matai Dreyman entah kenapa menjadi simpati kepada Dreyman dan dengan keahlian spionasenya berupaya membelokkan segala tuduhan yang ditujukan kepada Dreyman.
Pada mulanya, film ini membuat saya bingung karena saya tidak tahu kenapa harus ada Jerman timur dan Jerman barat dan kenapa keduanya memiliki ideologi sangat bertentangan, Timur dengan komunisnya dan Barat dengan kapitalisnya. Dan saya baru sadar, ternyata Jerman pasca PDII terjangkit virus komunis walaupun tidak semua.
Bagi saya sendiri, film dengan tema sejarah seperti ini selalu menarik untuk ditonton walaupun tidak semua film bertema sejarah layak tonton (Pearl Harbor???). Film ini bisa jadi pilihan lain bagi saya karena akhir-akhir ini saya suka sekali nonton anime Jepang.:D
Kalau situs IMDB memberi rating 8,5/10 untuk film, saya berani beri 9/10 deh.😀

ANIME:5 CM PER SECOND

5.Centimeters.Per.Second.full.145410
Saya bukan penggemar anime kelas berat sebenarnya. Cuma baru-baru ini saya lagi bosan saja dengan film-film biasa. Saya ingin ada jeda untuk mengerjakan skripsi saya jadi saya tentukan untuk menonton anime sekali-sekali. Pilihan saya jatuh ke anime 5 cm per second ini karena dapat rekomendasi dari seorang teman.
Anime ini bercerita tentang 2 sahabat kecil, Takaki dan Akari. Sebenarnya mereka sama-sama murid pindahan ke sebuah sekolah dasar di Tokyo. Banyaknya kesamaan antara mereka membuat mereka dekat yang bisa dibilang melebihi hubungan antar teman. Pada saat SMP, Akari harus pindah sekolah karena pekerjaan orangtuanya. Takaki dan Akira memutuskan untuk saling berbalas surat. Saat itu belum ada handphone atau email karena setting waktunya memang tahun 90an. Pada saat Takaki SMA,gantian Takaki yang harus pindah sekolah yang juga karena pekerjaan orangtuanya. Jarak semakin menjauh membuat mereka memutuskan bertemu-yang mana merupakan pertemuan terakhir mereka. Semakin lama, mereka tidak bisa lagi saling berbalas surat. Takaki yang masih mempunyai rasa hanya dapat menulis pesan singkat di handphonenya yang dia tujukan ke Akari tetapi tidak pernah dikirim. Akari pun begitu karena tetap menyimpan surat yang dia tujukan ke Takaki tetapi tidak pernah diberikan.
Bagi saya, yang bukan penggemar anime, memang merasa aneh awalnya karena belum pernah saya temukan anime se-‘realis’ ini. Realis karena memang terjadi pada sebagian kita. Tentang (akhirnya ada kata ini) cinta pertama dan cinta monyet. Memang agak disesalkan pada endingnya yang tidak memberikan konklusi apa-apa bagi penonton. Tapi, kekecewaan saya terbayar karena kualitas visualnya yang menurut saya sangat bagus ketimbang anime-anime pada umumnya. Katanya, yang membuat anime ini(saya lupa namanya) memang masternya visual untuk anime dan katanya jumlah penonton anime ini mengalahkan Spiderman 3 yang pada saat itu sedang diputar bersamaan di Jepang.
Judul 5 cm per second sendiri diambil dari kecepatan jatuh bunga sakura yang dalam film mewakili Takaki dan Akari yang terpisah jarak(cm) dan waktu(second) yang merubah kehidupan mereka pada akhirnya.

YOUNG THE GIANT-ISLANDS

Five days
Underwater
Near your island
Off the coast
I know
Five ways
You were my lover
Incantations
Of the tide
In rhyme

Oh, out in the glow I’ll find you waiting
Oh, has it been so long now, I
Oh, I thought you knew that I’d be coming
The way you move, a foreign groove, at night

I could never
I could never hold you

Watch it rise and where you hide your pearls
Feel the tide low where you cast those stones you wear
When no one’s home, do they feel cold on your bones
All the years I’ve missed your warmth,
Have you missed my warmth?
On your island

Saya tidak begitu mengikuti gelagat dunia hiburan Korea sebenarnya. Cuma, sekali-sekali saya nonton film produksi orang Korea sih. Salah satunya flm Introduction of Architecture yang sebanarnya tidak begitu banyak hubungannya dengan arsitek.

Yang menarik dari film ini adalah soundtrack-nya. 90an sekali. Yang saya share diatas adalah lagu closing-nya. Coba dengarkan dan nikmati. Hhe

SOE HOK GIE:PUISI

Saya tidak begitu mengenal sosok Gie. Saya-jujur- tidak begitu suka dengan pemikiran-pemikirannya yang menurut saya agak-agak mengarah ke sekuler. Dan saya juga lupa apakah saya pernah menulis tentangnya sebelumnya. Tapi itu, menurut saya, tidak penting. Saya sangat suka pada puisi-puisi Soe Hok Gie walaupun yang saya tahu cuma 2 buah puisi darinya. Itupun setelah menonton filmnya. Dan puisi yang paling saya suka adalah Romantisme (kalau tidak salah).

Saya tidak mengerti begitu mengerti sastra. Apalagi puisi. Karena Soe Hok Gie hidup sampai tahun 60an jadi saya beranggap tulisan-tulisan gie sangat ‘sastra klasik’. Walaupun saya suka novel-novel klasik bukan berarti saya paham apa itu sastra klasik. cuma pernah dengar ketika diajar Bu Dini, guru Bahasa Indonesia saya dulu dari SMP sampai SMA. Hmmm, puisi ini terdengar pas sekali ketika dibacakan Nicolas Saputra di film Gie.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Wiraza.
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis dilembah mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom didanau
Ada bayi-bayi yang mati lapar dibiavra
Tapi aku ingin mati disisimu manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
Mari sini sayangku kalian yang pernah mesra,
Yang pernah baik dan simpati kepadaku
Tegaklah kelangit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik ialah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ketiada
Berbahagialah dalam ketiadaaanmu

By Soe Hok Gie

Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.