Borneo's Blog

life is just like eating, enjoy every last bite and appreciate it

CAHAYA ISLAM DI EROPA

Dipikiran banyak orang-orang, pasti tahun baru itu penuh dengan pesta, pergi keluar, bakar-bakar rumah daging atau aktivitas-aktivitas menyenangkan lainnya. Tapi, saya disini saja. Di kos. Sendiri. Review mata kuliah karena tanggal 2 saya harus ujian akhir semester. Kadang-kadang kampus saya memang tak tahu waktu ya.
Sebenarnya minggu-minggu ini minggu yang rada-rada berat bagi saya. Masih ingat kan saya dikasih tugas baru setahun ini. dan kepengurusan saya baru berjalan 5 bulan tapi saya sudah merasa lelah sekali. Apalagi ada cara besar yang panitianya tidak jelas mau apa jadi kepanitiaanya saya ambil alih.
Untuk mengimbangi stress tadi, saya baca buku. Bukunya bagus sekali. Recommended buata anda-anda yang ingin tahu sejarah islam di eropa. judulnya 99 Cahaya di Langit Eropa. Ceritanya ringan, gampang dicerna, jelas. Tidak berbelit dan muter-muterlah seperti buku sejarah kebanyakan. Penulisnya anaknya bapak Amien Rais. Saya juga belum tahu apakah sudah semua sejarah islam diceritakan dibuku ini karena saya tidak menemukan cerita penulis tentang muslim di Bosnia dan sekitanya. Mungkin di sana memang ada tidak ada peninggalan sejarah islam layaknya di Paris, Granada, atau di Istanbul jadi penulis tidak menjadikan bosnia dan negara-negara pecahan yugoslavia lainnya sebagai destinasi. Tapi, overall buku ini bagus sekali.
Setelah membaca buku tadi saya jadi tertarik dengan sejarah Islam sendiri. Kenapa berjayanya dan kenapa runtuhnya. Peninggalan apa saja yang sampai sekarang masih ada. tentang bagaimana islam bisa sampai ke Spanyol, Bosnia dan negara eropa lainya-mungkin. Setelah membacanya juga saya jadi semakin bangga dengana islam terutaama tentang kesederhanaannya.
Sayang, ujian kali ini menggangu sekali. Semoga cepat kelar saja dan saya bisa browsing-browsing lebih banyak lagi.

TWITTER ADALAH PANGKALAN ALAY KEDUA

Malam ini habis ngobrol dengan seorang teman yang sekolah di negeri seberang. Sebenarnya obrolan kami belum selesai tapi tiba-tiba saya dapat ide buat nulis ini. Twitter adalah pangkalan alay kedua
Ingatan saya samar-samar tentang sejak kapan saya sudah tak aktif di facebook. Selama waktu itu pula saya sudah terbiasa dan tidak ada masalah. Selain karena sudah bosan karena setiap hari melihat status lebai-makan aja up date, bangun tidur aja harus up date-, alasan personal juga mempengaruhi saya kala itu. Jadi saya langsung menghapus account facebook saya. Selamanya.
Kemudian saya pindah ke twitter. Karena twitter itu ‘medan’ yang relatif sepi dan saya juga tidak mau kehilangan kontak dengan teman-teman saya. Setelah merasa aman tadi, saya ngetwitnya keterusan. :agipula, menurut saya twitter itu lebih sehat ketimbang facebook. Banyak orang yang ngeshare tulisan, gambar, ataupun ilmu yang entah mengapa bagi saya lebih ponya bobot.
Tapi dari hari ke hari twitter jadi sarang alay juga- saya sampai ketularan, dikit sih. Nah, rasa ingin cabut dari dunia ini muncul lagi. Dan lagi-lagi, ada alasan personal.
Jadi, apa yang saya obrolkan dengan teman saya tadi apakah saya lebih baik deactive dari twitter sama halnya ketika saya deactive dr facebook dl. Belum terjawab, kami malah ngobrolin hal yang lain. Hal yang lebih penting tentunya.

PAHLAWAN

10 November. Hari pahlawan. Dan, saya menulis ini jm stengh 1 pagi. Entah kenapa saya jadi kerajingan menulis. Yah, sambil menemni insomnia sih.

Apa makna pahlawan? siapa mereka? Bagaimna cara menghargai mereka?

Pertanyan seperti itu sering muncul menjadi headline di berita-berita di televisi, koran nasional ataupun sekedar promosi di televisi. Jujur saja, saya bosan dengan wacana-wacana, berita-berita yang bertemakan pahlawan diulang-ulang setiap tahunnya.

Apakah 10 November hanya akan jadi hari peringatan saja tanpa implementasi nyata. Apakah tanggal pada tanggal 11  November nanti atau pada bulan depan atau 2 bulan setelah ini akankah kitaa kan tetap menghargai pahlawan? kalau iya, seharusnya besok-besok tak ada lagi berita kisruh papua, tak da lagi mahasiswa bentrok ketika demo, tak ada lagi kasus gayus atau semacamnya. Nyatanya bagaimana? mungkin pertanyaan ini harus ditujukan pada pribadi masing-masing.

Menurut saya pahlawan itu adalah ibu saya, ayah saya, kakak adik saya, Rasul dan para manusia-manusia dengan pribadi sederhana yang mempunyai kata-kata powerful, tindakan super tak biasa dan selalu tahan cobaan bertubi-tubi. Mereka jatuh berkali-kali tetapi bangun berkali-kali pula. Mereka adalah sumber belajar kita yang membuat kita malu jika membandingkan apa yang telah kita perbuat dengan apa yang telah mereka perbuat. Cara menghargainya adalah menjaga apa yang mereka perjuangkan. Bukan dengan menjadikan mereka sebagai objek berita, cari keuntungan sendiri kemudian mereka dilupakan.

Semoga hari pahlawan kali ini bisa membuat kita lebih dewasa dan setelah hari ini kita selalu ingat akan pahlawan-pahlawan kita.

NB:lagi kena insomnia. nggak bisa tidur

DIMENSI BARU

Saya memasuki dimensi kehidupan baru yang luar biasa beda selama 3 bulan ini. Satu masa yang tak terencanakan sebelumnya. Sampai sekarang pun saya masih tak biasa dengan rutinitas ‘aneh’ seperti ini.
Saya, dari kecil, tak pernah punya cita-cita jadi orang penting. Layaknya mahasiswa pada umunya, saya hanya ingin belajar, lulus cepat, dapat kerja dan hidup enak sampai tua. Standard bukan. Dan entah kualat pada apa, takdir menuntun saya pada jalan yang tak terduga.
Kadang-kadang saya berpikir, untuk apa saya tetap dijalan ini. Kenapa, di awal bibir saya terucap kata ‘mampu’. Kenapa tidak membuat alasan super hebat saja waktu itu.

Tapi, buat apalah disesali, karena saya sudah ‘basah’ kenapa tidak menyelam sekalian dengan sekali-sekali muncul ke permukaan untuk ambil udara dan kemudian menyelam lagi.
Toh, saya juga akan belajar banyak dari sini. Belajar bahwa memimpin itu memang tidak mudah, belajar bahwa betapa pentingnya hal-hal simpel dan kecil yang tak kasat mata, betapa pentingnya untuk membunuh ego dan menguburnya dalam-dalam, dan belajar bahwa ekspektasi tinggi itu dekat dengan rasa kecewa.
Target saya tidak muluk-muluk kok. Saya ingin menciptakan kultur. Sebuah kultur akademik yang sehat. Saya ingin melihat mahasiswa, untuk sekedar berbicara saja harus mempunyai dasar yang kuat dengan mengandalkan intelegensianya. Saya ingin sekali melihat mahasiswa bertindak dengan prinsip-prinsip yang dewasa. Bertindak tidak dilatarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan bodoh.
NB:saya lagi ‘loyo’ jadi saya menulis saja untuk memotivasi diri.

TREES AND THE WILD



Akhir-akhir ini saya suka mendengarkan lagu mereka. Momennya tepat saja karena hujan dan akustik itu menurut saya klop.
lagu yang saya suka dari album mereka adalah The noble Savage, Berlin, Malino, Verdue, Derau dan kesalahan dan Kata
Kalau mau donlod gugling saja, banyak website yang menyediakan linknya kok

PEJALAN KAKI

Sudah dua bulan ini saya menempati kosan yang baru yang bernuansa sepi dan senyap pada malam hari. Jujur saya tidak begitu dekat dengan penghuni sekitar. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dikamar, bermain game, browsing internet dan menyelesaikan masalah di KMTM.
Nah, karena saya sering kesepian itu, saya sering main ke kontrakan teman. Yang menarik adalah, saya lakukan itu dengan dengan jalan kaki dengan jarak kira-kira 3 kilometeran setelah maghrib.
Ada kombinasi sensasi aneh yang muncul. Ada rasa lelah tapi diimbangi dengan rasa enjoy yang tak biasa. Rasa-rasanya seperti menemukan sesuatu yang baru. Suasana kampus malam hari yang gelap gulita, bau tanah yang habis digutur hujan-Solo seminggu ini hujan terus,melewati perpustakaan pusat-masih ada saja orang disitu, menikmati latihan anak-anak sastra yang lagi mempersiapkan pentasnya, melihat geng-geng skateboard.
Keliahatannya saya harus melakukan ini lebih sering.
NB:saya terinspirasi setelah nonton Into the Wild-akhirnya Alaxander Supertramp sadar juga kalau kebahagiann itu harus dibagi-bagi

UNTITLE(3)

Entah sudah berapa kali saya menulis tanpa judul. Rasanya susah sekali menemukan judul untuk tulisan ini.
Sudah lama rasanya tidak menulis. Rasanya aneh karena menurut saya menulis adalah teman ngobrol yang baik. Tapi apa harus dikata, saya benar-benar tak punya waktu untuk membuka blog ini.
Sebenarnya saya tidak tahu mau menulis apa. Saya cuma mau menghabiskan malam yang rasanya tak mau saya tinggal sendiri.
Akhir-akhir ini tekanan dikampus rasanya berat luar biasa. Setelah lelah seminggu karena ada dosen yang minta tolong untuk bantu-bantu mempersiapkan seminar internasionalnya. Hanya berselang sehari saya dan teman-teman saya harus menyiapkan pelantikan dan mengadakan raker yang mundur karena seminar tadi. Dan, ada banyak kerjaan lain yang harus dikerjakan segera.
Tapi, apa yang saya petik dari semuanya tadi sungguh sebanding. Saya dipaksa untuk berpikir lebih tenang dan sabar. Saya sadar bahwa saya tidak sendiri. Saya jadi tahu indahnya kerja sama. Saya jadi tahu karakter banyak orang. Saya jadi tahu bahwa emosi, pada momen tertentu, memang harus ditekan ke titik terendah. Dan, yang paling penting, semuanya tadi melatih saya untuk menjadi “saya”, memahami bahwa akan selalu ada jarak antara kemauan saya dan realita. Dan, tak penting siapa dirimu, manusia selalu mempunyai sifat memimpin dalam dirinya dan semua orang mempunyai seninya sendiri-sendiri.

PS:menulis lagi rasanya lega. saya jadi optimis lagi.

MEMBACAKU

Untuk ukuran anak remaja tua seperti saya, rasa-rasanya heran kalau sudah pikun. Tapi ini kenyataan kok. Begini. Kepala saya penuh dengan dengan ide yang ingin saya ubah menjadi tulisan. Banyak sekali. Anehnya, ketika sudah membuka blog saya ini, ide itu langsung buyar saja. Hasilnya, saya jadi mematung di depan komputer. Rasa-rasanya saya harus menemukan jalan keluarnya.

Membaca  bisa jadi jalan keluarnya. Pernah saya baca suatu artikel bahwa sering membaca bisa mengurangi pikun di hari tua. Nah, di artikel itu disarankan untuk memulai membaca yang ringan-ringan dulu semisal koran harian dll.  Tapi kebiasaan membaca koran harian sudaha saya tinggalkan lama. Sebagian besar yang ditulis adalah beita-berita kurang bagus untuk dibaca yang menurut saya mempunyai dampak kurang bagus juga ke masyarakat yang membaca. Mayarakat jadi lebih pesimis. Dunia jurnalistik sekarang sudah berubah menjadi ladang bisnis dan para kuli tinta kehilangan idealismenya.

Saya sendiri sedikit demi sedikit mengurangi interaksi dengan berita-berita dalam negeri. Kalaupun ada, itu hanya sekedar tahu keadaan-keadaan di pelosok Indonesia.  Saya hanya ingin menyakinkan diri saya saja untuk lebih selektif dengan berita-berita yang beredar.

Saya sendiri lebih enjoy untuk membaca novel dan buku-buku non fiksi daripada membaca koran atau melihat cara berita ditelevisi. Lebih asyik mendalami sosok nabi Muhammad dan para pewarisnya ketimbang harus mengikuti kisruhnya politik dan hukum yang tak jelas arahnya. Lebih enak membaca novel-novel Andrea Hirata kan daripada mengikuti cerita wakil-wakil kita yang kontroversil luar biasa.

 

SEMESTER 6

Untuk ukuran mahasiswa, kuliah di semester 6 sudah tak pantas lagi untuk di labeli muda walaupun jiwa-jiwa berontak itu masih ada. Dan, untuk sebagian mahasiswa yang kuliahnya lancar, saat seperti ini adalah saat terbaik untuk memikirkan Tugas Akhir dan Kerja Praktek. Kalau ada yang berpikir lain, selamat karena ada mempunyai teman. Saya.

Tak ada rasa sedih dan menyesal awalnya ketika melihat hampir 60% mahasiswa yang seangkatan saya sudah melencong kemana-mana untuk Kerja Praktek. Siap-siap ini itu untuk keperluan KP mereka. Bahkan, ada teman saya yang sudah ngurusi TA sedikit demi sedikit. Benar tak ada rasa iri atau khawatir sedikitpun. Tak tahu rasa malas ini dalangnya siapa.

Tapi, setelah  sedikit merenung akhir-akhir ini, rasa gugup itu tiba-tiba datang saja. Rasanya saya sudah salah memberi formula untuk waktu, tenaga dan pikiran saya karena semuanya berjalan ditempat. Sesuatu pasti tidak pada tempatnya.

Hal pertama mungkin rutinitas kampus-perpus -kos harus dikurangi kadarnya untuk semester depan. Dan, saya akan membuat resolusi baru dan membuang resolusi yang lama. Waktu 2 minggu di rumah ini akan jadi momen yang tepat menurut saya: Saya harus berubah. Saya janji.

REUNI KECIL-KECILAN

Sudah hari ketiga saya meningglkan kesibukan di Solo. Rasa senang bercampur sedikit tak tenang bercampur aduk. Senang, karena saya akan meninggalkan satu tahun membosankan. Sedikit tak tenang, karena baru-baru ini saya ditelpon dan ditanya ada dimana. Rasa-rasanya saya terlalu mengambil peran penting dikampus. Apalagi semester depan, saya ditugasi hal yang menurut saya berat dan tak biasa.

Tiga hari ini saya habiskan untuk menunggu keberangkatan ke Kalimantan. Saya putuskan untuk menginap di kos teman di UDINUS. Sambil menunggu saya putuskan menghubungi beberapa teman. Yang dekat-dekat terutama. Etong, Pak Ting, dan Adit. Dari ketiganya, saya putuskan untuk menyambangi yang pertama. Alasannya, rumahnya paling dekat dengan tempat saya menginap. Kedua, saya sekalian sepeda-sepedaan keliling simpang lima. Kebetulan ada sepeda lipat.

Sampai sana ada saja yang berubah. Entah itu orangnya, rumahnya dll. Tapi tidak dengan keramahannya. Kami langsung nyambung saja. Kami banyak ngobrol tentang dimana teman-teman yang lain, lagi sibuk apa saja dan siapa saja yang sudah kami jarang temui(kalau saya banyak). Tak lupa kami menyambung obrolan via SMS tadi malam.

Sampai disitu, saya pamit pulang. Saya putuskan untuk pulang berputar arah. Pertama ke Simpang Lima yang tak banyak berubah dari dulu. Kemudian ke Pemuda melewati Paragon, Novotel, SMA 3 dll. Terakhir tentu saja melewati UDINUS dan sampai ke tempat.

Walau sebentar, kunjungan langka saya ini membuat saya sedikit senang. Saya bisa berjumpa teman lama walaupun tak semua. Berputar-putar Semarang yang dari dulu begitu-begitu saja(TAPI SAYA CINTA). Senang rasanya mengetahui semua masih sehat-sehat saja. Saya anggap ini sebagai reuni kecil-kecilan.

 

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.